Bursa Tokyo Menutup 2018 Dengan Potensi Peningkatan Risiko Global

Bursa saham Tokyo menutup perdagangan resminya sedikit lebih rendah di tahun 2018, dibayangi peningkatan risiko selama 12 bulan kedepan. hal ini diakibatkan masih berlanjutnya perselisihan perdagangan antara AS-Cina yang  mengancam pertumbuhan global. Sementara kekhawatiran lainnya datang dari kenaikan pajak konsumsi domestik ditambah dengan penguatan nilai tukar Yen terhadap Dollar yang memberikan ancaman bagi laju keuntungan eksportir Jepang.

Friksi perdagangan yang terjadi antara dua negara ekonomi terbesar dunia, menjadi sentimen pasar terbesar di tahun 2018 ini. Perjanjian untuk menunda kenaikan tarif diantara keduanya selama 90 hari, dinilai hanya mampu meredakan kegelisahan pasar untuk sementara waktu, sedangkan yang terjadi adalah pasar tidak melihat adanya indikasi bahwa ketegangan akan mereda, namun justru kemungkinan besar pertikaian perdagangan keduanya masih akan meningkat lebih lanjut dan memangkas pertumbuhan global.

Yutaka Miura, analis teknis senior di Mizuho Securities Co, mengatakan baha wa ekonomi di kawasan Eropa dan Asia Tenggara akan menderita seiring perlambatan ekonomi Tiongkok, sementara perselisahan dagang AS-Cina juga akan semakin sulit untuk diselesaikan, karena semuan ini menjadi “ladang pertempuran” dimana keduanya berjuang untuk memimpin ekonomi global, sehingga pasar diperkirakan akan bergerak sejalan dengan perkembangan yang terjadi nanti.

Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), pada bulan lalu menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi global menjadi 3.5% di tahun depan. Para analis mengatakan bahwa peningkatan perang dagang dengan AS dapat memberikan tekanan terhadap ekonomi Cina, yang mengalami laju pertumbuhan terburuknya selama sembilan tahun di periode Juli-September, dengan mencatat pertumbuhan 6.5%.

Norihiro Fujito, ahli strategi investasi senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities Co, melihat banyaknya perusahaan Jepang yang mengandalkan Cina untuk bisnis mereka, sehingga perlambatan ekonomi Cina akan mempengaruhi sejumlah sektor seperti transportasi laut, besi dan baja serta produk machinery.(WD)

Related posts