Bursa Wall Street Tergerus Aksi Ambil Untung

Bursa saham Wall Street tergelincir dari rekor tertingginya pada hari Senin seiring para investor melakukan aksi ambil untung setelah kenaikan optimisme pasar menyusul AS dan Cina yang berhasil mencapai kesepakatan perdagangan fase pertama.

Indeks utama Dow Jones, S&P500 serta Nasdaq membukukan penurunan persentase harian terbesarnya dalam sekitar empat pekan terakhir.

Pada hari Senin kemarin, penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro mengatakan bahwa pakta perjanjian tersebut kemungkinan akan ditandatangani di pekan depan, namun konfirmasi tersebut akan disampaikan oleh Presiden Donald Trump atau oleh Perwakilan Dagang Robert Lightizer.

Sementara itu harian South China Morning Post mengatakan bahwa Wakil Perdana menteri Cina, Liu He akan bertolak ke Washington pada akhir pekan ini untuk menandatangani perjanjian antar kedua negara. Berita tersebut memberikan sedikit dorongan bagi pergerakan saham AS, untuk memperpanjang kenaikannya.

Quincy Krosby selaku kepala strategi pasar di Prudential Financial di Newark, New Jersey mengatakan bahwa banyak pedagang dan manajer portofolio yang telah mencapai target mereka dan tidak ingin membahayakan kinerja mereka sebelumnya, sehingga bukan hal yang aneh adanya aksi ambil untung saat mendekati akhir tahun.

Indeks Dow Jones ditutup dengan mencatat penurunan 0.64%, sementara indeks S&P500 kehilangan sekitar 0.58%, sedangkan indeks Nasdaq berakhir sekitar 0.67% lebih rendah di sesi penutupan perdagangan semalam. Saham-saham di sektor layanan komunikasi turun 1%, sekaligus mencatat persentase penurunan terbesarnya diantara seluruh sektor yang ada dalam indeks S&P500.

Sementara itu saham-saham di sektor teknologi turun 0.6% yang membebani sebagian besar pergerakan indeks acuan. Sepanjang tahun ini saham-saham di sektor teknologi telah mencatat kenaikan 47.5% dan sektor layanan komunikasi mencatat kenaikan 30.6%, sehingga mampu memimpin kenaikan persentase bagi indeks S&P500 di tahun ini.

Wakil Presiden Trading & Derivatives di Charles Schwab yang bermarkas di Austin Texas, Randy Frederick mengatakan bagwa bukan hal aneh bagi sektor-sektor terkemuka untuk menarik kembali terlebih dahulu disaat yang lainnya mulai melakukan penjualan, karena jika hal tersebut menjadi kinerja terbaiknnya maka dirinya akan menanggung risiko penurunan yang lebih besar.(WD)

Related posts