Header Ads

CPI Tahunan Korsel Naik 2.0% Di Bulan Oktober

Indeks harga konsumen di Korea Selatan naik 2.0% di tingkat tahunan pada bulan Oktober lalu, mencatat pertumbuhan dalam laju tercepatnya dalam 13 bulan terakhir guna mencapai kisaran target inflasinya. Pertumbuhan ini yang cepat ini tidak terlepas dari lonjakan biaya di produk energi dan makanan, yang mana hal ini sedikit menyulitkan bagi Bank of Korea untuk menetapkan bahwa laju inflasi inti masih di kisaran rendahnya.

Biro Statistik Korea melaporkan indeks harga konsumen (CPI) bulan Oktober naik 2.0% dari periode yang sama di tahun lalu, sehingga mampu menyentuh target inflasi di negeri ginseng tersebut untuk pertama kalinya sejak September 2017 saat CPI tumbuh sebesar 2.1%. Sejak saat itu laju inflasi Korea Selatan terus berada di kisaran 1% selama 12 bulan berturut-turut sejak Oktober tahun lalu.

Secara detail disebutkan bahwa harga produk pertanian, peternakan dan perikanan naik 8.1% di tingkat tahunan. Sementara untuk biaya di sektor tersebut dilaporkan melonjak 14.1%, naik menembus indeks headline hingga 0.63 poin persentase. Kuatnya harga minyak global, telah mendorong harga minyak naik 11.8%, dan untuk mengurangi biaya bahan bakar, pemerintah pada pekan lalu telah mengumumkan mengenai rencana pemangkasan pajak bahan bakar hingga 15% selama enam tahun kedepan, yang dinilai akan mampu menurunkan inflasi headline sebesar 0.2 hingga 0.3 poin persentase.

Utilitas dilaporkan turun 1.9%, sedikit lebih tinggi dari penurunan 1.8% di bulan sebelumnya. Biaya jasa perorangan dilaporkan naik 1.3% di tingkat tahunan. Sedangkan untuk biaya layanan pribadi seperti makan dan pendidikan melonjak 2.2%. Untuk indeks pengeluaran sehari-hari, yang mencerminkan pengeluaran untuk makanan pokok dan biaya utilitas, naik 2.4% per tahun menyusul kenaikan indeks harga makanan segara yang naik 10.5%.

Namun demikian laju inflasi inti masih tetap rendah sehingga pertumbuhan ekonomi seperti kehilangan tenaga, yang semuanya ini menjadi faktor-faktor yang akan menyulitkan Bank Sentral untuk memutuskan penetapan suku bunga untuk bulan ini. Core CPI yang tidak mencakup harga energi dan makanan, tetap stabil di 1.1% dari tahun sebelumnya.

Pada bulan lalu Bank of Korea telah mempertahankan suku bunga acuan di 1.50%, dengan alasan ketidakpastian ekonomi global akibat trade war. Selain itu mereka juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sebanyak dua kali untuk tahun ini, akibat memburuknya kondisi ekonomi domestik, ke angka 2.7% dari 2.9% di bulan Juli dan 3.0% di semester pertama tahun ini. Di satu sisi Bank of Korea memberikan gambaran bahwa pihaknya akan menunda normalisasi kebijakan jika hanya untuk mengadopsi pengetatan kebijakan moneter dari Federal Reserve.(WD)

Related posts