Header Ads

Indeks Nikkei Berhasil Membalikkan Penurunan Di Awal Perdagangannya

Aksi pembelian individu dengan insentif di bursa saham Tokyo, telah membalikkan indeks saham Nikkei untuk ditutup lebih tinggi pada sesi perdagangan hari ini. Pada penutupan sesi perdagangan waktu Asia, indeks Nikkei ditutup naik 0.19% setelah mengalami penurunan pada sesi perdagangan Senin kemarin. Sementara indeks saham Topix, justru ditutup di level yang lebih rendah atau mencatat penurunan sekitar 0.09%.

Setelah sebelumnya mencatat penurunan di awal perdagangan waktu Tokyo, indeks Nikkei berbalik ke wilayah positifnya, namun nampaknya hal ini berpotensi memicu terjadinya penjualan saat harga mengalami reli. Indeks saham yang menjadi indikator utama sektor bisnis Jepang, berfluktuasi dalam kisaran sempit dengan pergerakan harga sedikit diatas level penutupan hari sebelumnya, akibat dukungan aksi pembelian selektif dari investor individu.

Kenaikan indeks saham Nikkei dibantu oleh lonjakan nilai saham Sony, hingga berhasil membukukan kenaikan sekitar 16 poin. Para investor bergegas membeli saham Sony, menyusul laporan bahwa perusahaan investasi asal AS, Third Point LLC telah meningkatkan kepemilikan sahamnya di perusahaan raksasa teknologi Jepang tersebut. Pasca laporan tersebut nilai saham Sony melonjak hingga sebesar 9.26%.

Namun demikian Chihiro Ota, selaku manajer umum untuk riset investasi dan layanan investor di SMBC Nikko Securities Inc, mengatakan bahwa secara keseluruhan bursa saham Tokyo terbebani oleh sebagian kecil penjualan dari para investor individu.

Selain lonjakan yang berhasil dicatat oleh saham Sony, sejumlah saham lainnya seperti produsen mesin pembuat uang Japan Cash Machine dan Glory, masing-masing melonjak sebesar 8.57% dan 7.87%, menyusul keluarnya pengumuman dari pemerintah Jepang bahwa mereka akan mendesain ulang mata uang kertasnya.

Akan tetapi perusahaan ritel furnitur, Nitori Holdings justru anjlok sebesar 2.21%, menyusul perkiraan laba operasionalnya untuk tahun ini hingga Februari 2020 mendatang, dinilai gagal mengalahkan ekspektasi pasar.(WD)

Related posts