Header Ads

Kapal Eksplorasi Exxon Mobil Dicegat Oleh Angkatan Laut Venezuela

Terjadi insiden terbaru dalam rangkaian sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama lebih seabad yang lalu antara Venezuela dan Guyana, terkait dihentikannya kapal eksplorasi minyak atas nama Exxon Mobil Corp oleh angkatan laut Venezuela di perairan perbatasan antara kedua negara.

Kementerian Luar Negeri Guyana menyatakan bahwa Angkatan Laut Venezuela mencegat kapal Exxon di perairan wilayah Guyana, sementara sebaliknya Venezuela mengklaim bahwa ini terjadi di wilayahnya. Perselisihan ini timbul pasca ditemukannya sumber minyak lepas pantai yang menjadikan Guyana berpotensi sebagai produsen minyak mentah terbesar di Amerika Latin. Seperti diketahui bahwa sebagai anggota OPEC, Venezuela telah kehilangan produksi minyak mentahnya hingga ke level terendah dalam hampir 70 tahun akibat krisis ekonomi di negara tersebut.

Kapal Ramform Tethys milik perusahan Norwegia Petroleum Geo-Service, tengah melakukan survei seismik atas nama Exxon di bagian barat Blok Stabroek Guyana, sebelum dihentikan oleh kapal patroli Angkatan Laut Venezuela. Dalam sebuah pernyataan resminya pihak Angkatan Laut Venezuela menyatakan bahwa mereka menemukan dua kapal yang disewa oleh Exxon Mobil di wilayah yang masuk dalam kedaulatan negara tersebut, serta menambahkan bahwa mereka akan menerapkan aturan sesuai protokol Internasional yang sesuai.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebelumnya telah melontarkan kritik terhadap keputusan Guyana untuk mengizinkan aktifitas eksplorasi minyak di perairan lepas pantai di wilayah Esafteribo, suatu pulau tropis kecil yang berpenduduk sedikit.

Pertikaian di wilayah ini memanas dalam beberapa tahun terakhir ketika Exxon Mobil mengumumkan penemuan sumber minyak mentah dengan potensi hingga lebih dari 5 milliar barrel di lepas pantai Guyana, yang berpenduduk hanya 750,000 jiwa dan belum pernah memproduksi minyak sepanjang sejarahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino menyalahkan Venezuela atas insiden tersebut seraya menambahkan bahwa Guyana memiliki hak untuk itu dan Venezuela harus menghormati hukum internasional. Pihak Washington memang banyak melontarkan kritiknya terhadap pemerintah Maduro, yang dituduh telah melakukan korupsi dan pelanggaran HAM.

Kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu ini setidaknya diharapkan akan mampu memunculkan fundamental yang kuat bagi sentimen serta memberikan perubahan terhadap harga minyak di pasar.(WD)

Related posts