Korea Selatan Harus Memacu Laju Industri Untuk Meredakan Kekhawatiran Rakyatnya

Menurut sebuah survey terhadap 1000 responden berumur diatas 20 tahun serta 100 ahli, yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan, bahwa yang paling mengkhawatirkan mereka adalah mengenai berkurangnya lapangan pekerjaan sebanyak 35.9%. Selanjutnya masalah kesehatan menduduki urutan kedua sebanyak 17.1%, mata pencaharian pasca pensiuan 15%, pendidikan anak 14.2%, melahirkan dan merawat anak 7.1%, perumahan 3.2%, lingkungan 3% dan terakhir adalah kemampuan membayar pinjaman sebanyak 2.9%.

Dalam survey tersebut dijelaskan pula bahwa kekhawatiran sebagian besar masyarakat Korea Selatan untuk masa mendatang adalah mata pencaharian setalah mereka pensiun, kemudian kesehatan dan baru pekerjaan. Setidaknya hasil survey ini bisa menjadi acuan bagi pemerintah Seoul untuk lebih fokus lagi terhadap sektor tenaga kerja dan lapangan kerja.

Sebagai negara ekonomi keempat terbesar Asia, Korea Selatan harus mampu menjaga laju aktivitas manufakturnya sebagai salah satu kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonominya. Dengan menjaga laju aktivitas manufaktur, yang tentunya tidak terlepas dari laju permintaan baik domestik maupun luar negeri, maka Korea Selatan tidak boleh bergantung kepada hanya satu atau beberapa negara lain sebagai mitra dagangnya.

Trade Wars yang terjadi, bahkan berpotensi mengarah kepada Currency War, antara AS dengan Cina telah menimbulkan kerugian tersendiri bagi Korea Selatan. Setidaknya kebijakan tarif yang diberlakukan oleh AS kepada Cina seharusnya mampu jadi kesempatan bagi Seoul dalam memacu laju pengiriman produk smartphone maupun memory chip dan produk otomotif mereka. Dari sekian banyak industri di Korea Selatan, produk smartphone dan memory saat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, dan ini merupakan peluang bagi Korea Selatan untuk meninggalkan Cina di pangsa pasar Smartphone AS.(WD)

Related posts