Header Ads

Mayoritas Bursa Asia Bergerak Di Kisaran Yang Lebih Tinggi

Mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak lebih tinggi mengikuti bursa Wall Street yang ditutup naik, seiring para investor yang menilai semakin banyak negara yang memulai kembali aktifitas ekonomi mereka, bahkan disaat sejumlah negara masih melaporkan kenaikan kasus virus corona terbaru.

Sejumlah kebijakan lockdown semakin banyak yang dilonggarkan, seperti Selandia Baru yang melonggarkan kebijakan lockdown di hari Kamis, sementara Jepang berencana untuk mengakhiri keadaan darurat untuk daerah di mana infeksi telah stabil.

Bahkan hal ini terjadi di saat Korea Selatan memperingatkan adanya gelombang kedua dari coronavirus baru saat infeksi melambung ke level tertinggi satu bulan, sementara infeksi baru meningkat di Jerman.

Namun demikian para investor sepertinya bertekad untuk tetap bersikap optimis, yang ditandai oleh indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang yang menguat hingga 1.1% di sesi perdagangan awal pekan ini.

Indeks Nikkei Jepang mencatat kenaikan hingga 1.5% di perdagangan siang hari ini, setelah di awal sesi sempat mencatat kenaikan hingga 1.8% dan menyentuh level tertingginya sejak 6 Maret lalu.

Data inflasi dan produksi Tiongkok yang akan dirilis minggu ini akan diawasi dengan ketat sebagai petunjuk tentang bagaimana pandemi telah menekan permintaan di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Alan Ruskin yang menjabat sebagai kepala G10 FX di Deutsche Bank, mengatakan bahwa laporan tenaga kerja AS yang terburuk sepanjang sejarah, masih mampu membantu aset berisiko, setelah data yang dirilis tidak separah yang ditakutkan oleh para analis, yang mana sejak akhir Maret lalu telah ada perbedaan luar biasa antara ekonomi riil dan risiko keuangan, dengan dibantu oleh akomodasi kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, namun pihaknya kurang yakin seberapa lama pasar mampu dibantu oleh kebijakan, yang bisa menentang laju ekonomi riil jika terjadi peningkatan perlambatan pertumbuhan.

Sementara di pasar obligasi, reli harga telah terjadi bahkan ketika Departemen Keuangan AS berencana untuk meminjam triliunan Dollar dalam beberapa bulan ke depan untuk menutup defisit anggaran yang menganga.

Penurunan dalam imbal hasil AS mungkin menjadi beban bagi Dollar tetapi dengan tingkat mendekati atau kurang dari nol, sehingga pergerakan mata uang utama telah terjebak dalam kisaran ketat.(WD)

Related posts