Mayoritas Bursa Asia Menguat Menjelang NFP

Bursa saham Asia berhasil menghapus kerugian awal di sesi perdagangan hari ini dan bersiap untuk mencetak kenaikan mingguan terbesarnya sejak 2011, seiring dukungan dari kebijakan stimulus yang lebih besar dari ECB sehingga memicu harapan terjadinya rebound di pasar global.

Mayoritas pasar saham di kawasan Asia mengalami pergerakan yang sedikit berfluktuasi, menyusul sejumlah investor yang memilih untuk melakukan aksi profit taking menjelang data Non-Farm Payroll, yang diperkirakan akan menunjukkan penurunan lebih lanjut di pasar tenaga kerja AS nanti malam.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0.1%, membalikkan kerugian awal untuk tetap berada di dekat level puncaknya dalam 12 minggu terakhir.

Bursa saham KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu bursa yang menunjukkan kinerja terbaiknya di hari ini dengan mencatat kenaikan 0.7%, sementara indeks acuan Australia serta indeks saham Nikkei Jepang masing-masing menguat sebesar 0.1%.

Namun demikian pasar ekuitas di pasar negara berkembang, yang telah membuahkan keuntungan kuat di pekan ini, saat ini tengah berada dalam kondisi taking profit dari para investornya.

Jim Paulson selaku kepala strategi investasi di The Leuthold Group di Minneapolis, menilai bahwa sejauh ini pasar telah mencatat kenaikan dengan cepat sehingga banyak pihak yang mengatakan akan mengambil keuntungan dari pergerakan tersebut.

Pasar ekuitas dunia hancur pada bulan Maret ketika berada dalam zona bearish, di tengah kekhawatiran terkait lockdown akibat Covid-19 akan mendorong ekonomi global ke dalam resesi yang panjang dan dalam.

Sejak saat itu sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh kebijakan sejumlah bank sentral yang meluncurkan stimulusnya.

Seperti yang dikatakan oleh Bob Michele selaku chief investment officer and head of the global fixed income di JPMorgan Asset Management, bahwa bank-bank sentral telah emalkukan langkah dengan tepat untuk meredam hanataman pandemi terhadap ekonomi dan hal ini tidak diragukan telah berhasil menstabilkan kondisi pasar.

Fokus para investor saat ini akan tertuju kepada laporan ketenagakerjaan AS di hari Jumat, yang diperkirakan jatuh sebesar 8 juta pekerjaan pada bulan Mei, setelah mencatat rekor penurunan sebesar 20.54 juta pada bulan April.(WD)

Related posts