Header Ads

Mayoritas Bursa Global Menguat Seiring Laporan Pendapatan Yang Lebih Baik

Mayoritas bursa saham global menguat di sesi perdagangan hari ini, menyusul laporan pendapatan perusahaan yang lebih baik serta gencatan senjata yang terjadi di Suriah Utara sehingga mampu menopang sentimen pasar yang berubah positif meskipun masih dibayangi oleh ketidakpastian perselisihan perdagangan AS-Cina dan Brexit yang sudah cukup untuk menvegah pergeseran ke arah aset berisiko.

Saat sesi perdagangan waktu Eropa siang ini, indeks EuroStoxx 50 mencatat kenaikan 0.1%, sementara indeks DAX Jerman berhasil meraih keuntungan 0.25%, sedangkan indeks FTSE Inggris bergerak dalam kecenderungan datar.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0.3%, dengan indeks Nikkei Jepang yang menguat 0.55% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir di sesi perdagangan hari kemarin.

Sentimen Risk Appetite turut mendapat dukungan setelah Presiden Trump mencabut sanksi kepada Turki dengan mengatakan bahwa gencatan senjata di Suriah menjadi permanen sejak saat ini.

Analis JPMorgan, Tohru Sasaki dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa gesekan perdagangan AS-Cina nampaknya memasuki fase gencatan senjata, sementara Brexit yang belum mencapai kesepakatan sepertinya dapat dihindari, sedangkan tensi geopolitik antara AS dengan Turki juga sudah mereda, sehingga menjadi faktor utama bagi Nikkei untuk reli.

JPMorgan memperkirakan kenaikan indeks Jepang akan berlanjut hingga akhir tahun yang dipicu oleh pembelian kembali sejumlah saham. Sebelumnya sebuah survei lembaga swasta menunjukkan bahwa aktifitas pabrik di Jepang bulan Oktober, mengalami penyusutan dalam laju tercepatnya di lebih dari tiga tahun terakhir, akibat melambatnya permintaan global serta gesekan perdagangan AS-Cina.

Chief economist di RBC Capital Markets, Tom Porcelli merujuk pada berita utama yang secara konsisten mengkhawatirkan sejak kuartal pertama tahun lalu, yang menunjukkan bahwa laju pendapatan Caterpillar yang buruk memberikan cerminan bahwa resesi sudah hampir selesai meskipun hal itu belum terjadi.

Selain itu pasar mata uang saat ini tengah terjebak dalam kisaran yang ketat menjelang pertemuan penting bank sentral AS, Eropa dan Jepang untuk menyampaikan peninjauan kebijakannya.

Sebelumnya negara-negara anggota Uni Eropa telah menunda keputusan mereka apakah akan memberi Inggris perpanjangan waktu penundaan Brexit selama tiga bulan ke depan. Terkait akan hal tersebut Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan bahwa jika batas waktu ditunda hingga akhir Januari, maka dirinya akan mengadakan pemilihan.

Salah seorang ekonom di ANZ mengatakan bahwa pertempuran Brexit nampaknya akan berlarut-larut, sementara ketidakpastian Brexit masih akan terus membebani laju investasi dan aktifitas bisnis di Inggris, seiring perkiraan bahwa pemerintah Inggris tidak akan memenuhi batas waktu 31 Oktober untuk meninggalkan Uni Eropa.(WD)

Related posts