Mayoritas Bursa Saham Asia Bergerak Lebih Rendah

Sebagian besar bursa saham di kwasan Asia bergerak lebih rendah di sesi perdagangan hari ini, seiring epidemi virus corona yang terus mengguncang sektor korporasi di tengah ekspektasi yang akan menyebabkan terjadinya perlambatan.

Bursa saham Shanghai Composite di Cina Daratan mengalami penurunan tipis sekitar 0.16%, sedangkan Bursa Shenzen Composite justru melawan tren dan mencatat kenaikan 0.33%. Untuk indeks saham Hangseng Hong Kong hingga saat ini bergerak turun sekitar 1.23%, sementara indeks saham Nikkei Jepang mencatat penurunan sebesar 1.28%, mengikuti kerugian di hari sebelumnya, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah hingga 1.65% hingga menjelang sesi penutupannya.

Secara keseluruhan, indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0.74%. Para pelaku pasar terfokus pada data penghasilan dari bank HSBC yang akan merilis laporan pendapatannya pada malam nanti. Para investor mengharapkan bank tersebut mampu menghadapi tantangan di masa depan, yang mana sebagian besar keuntungannya berasal dari kawasan Asia, khususnya Hong Kong, meskipun berkantor pusat di London.

Selain itu penurunan sebagian besar bursa saham di kawasan Asia disebabkan oleh jatuhnya saham perusahaan pemasok Apple di Asia, seiring raksasa teknologi AS tersebut mengeluarkan peringatan bahwa kemungkinan mereka tidak mampu memenuhi perkiraan pendapatan kuartalan seiring pasokan produk iPhone yang lebih rendah secara global serta permintaan dari pasar Cina yang mengalami penurunan akibat gangguan dari epidemi virus corona.

Diketahui bahwa Apple Inc memproduksi sebagian besar iPhone dan produk lainnya di Cina, sehingga dengan adanya epidemi ini maka perusahaan tersebut telah menghentikan sementara aktifitas produksi mereka serta menutup gerai toko ritelnya di Cina.

Analis di Wedbush Securities, Daniel Ives dan Strecker Backe mengatakan bahwa berita tak terduga ini semakin memberikan konfirmasi ketakutan terburuk dari lantai bursa Wall Street bahwa wabah virus telah membawa pengaruh secara dramatis terhadap pasokan iPhone dari Cina/Foxconn yang berdampak terhadap laju permintaan secara global.

Mereka juga menambahkan dalam catatannya bahwa walaupun berita ini mendatangkan kesulitan bagi pergerakan bullish, namun Apple Inc tetap menjadi perusahaan yang terpapar secara signifikan terhadap permasalahan virus ini, mengingat pasokan besar serta permintaan terhadap jaringan perusahaan mereka di seluruh Cina.(WD)

Related posts