Mayoritas Bursa Saham Asia Mampu Bangkit

Sejumlah bursa saham di kawasan Asia mampu bangkit kembali dari level terendahnya dalam dua bulan terakhir di sesi perdagangan hari ini, menyusul turunnya imbal hasil obligasi serta dibantu oleh bursa saham Cina yang menemukan pijakan pasca penurunan tajam akibat kekhawatiran pengetatan kebijakannya.

Indeks saham MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang mencatat kenaikan 0.4%, setelah sehari sebelumnya mencapai level terendahnya, sementara indeks CSI300 dari A-stocks Cina Daratan berhasil meraih kenaikan sebesar 0.7% di awal perdagangannya.

Kenaikan yang melanda bursa saham Cina ini terjadi setelah sehari sebelumnya mengalami kejatuhan ke level terendahnya sejak pertengahan bulan Desember lalu, di tengah prospek kebijakan yang lebih ketat serta pemulihan ekonomi yang melambat.

Hiroshi Watanabe selaku ekonom senior di Sony Financial Holdings mengatakan bahwa pasar telah memberikan perhatian penuh kepada obligasi, karena laju pendapatan tidak tumbuh secepat itu untuk saat ini, dan tingginya harga saham yang terlihat sekarang nampaknya tidak akan berkelanjutan jika imbal hasil obligasi mengalami kenaikan lebih lanjut sehingga merusak valuasinya.

Namun demikian banyak investor pasar yang tetap merasa gelisah, seiring minat investor terhadap treasury pemerintah yang akan jatuh tempo di akhir pekan ini, dalam sebuah lelang untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun.

Terkait akan hal ini seorang ahli strategi suku bunga senior di Nomura Securities, Naokazu Koshimizu mengatakan bahwa meskipun pasar obligasi sedkit stabil, namun masih akan ada tekanan dan hal ini telah memberikan perkiraan terhadap kebijakan moneter The Fed di masa depan, yang pada akhirnya akan berada dalam kondisi netral namun belum mampu memperhitungkan peluang pengetatan kebijakannya.

Sejumlah investor melihat adanya risiko riil dari ekonomi AS yang dinilai berada dalam kondisi “overheat” serta laju inflasi yang lebih tinggi dilatarbelakangi pengeluaran yang telah direncanakan oleh pemerintahan Biden, termasuk stimulus senilai $ 1.9 triliun serta besarnya inisiatif terhadap infrastruktur di AS.

Pergerakan indeks saham menjadi sangat rentan terhadap prospek kenaikan suku bunga dan penurunan yang terjadi di awal pekan ini tercatat lebih dari 10% dari penutupan perdagangan 12 Februari lalu, sehingga secara luas mengkonfirmasi koreksi yang melanda indeks saham.

Sementara itu Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menilai bahwa peluncuran vaksin Covid-19 yang lebih cepat di sejumlah negara serta paket stimulus AS yang direncanakan dianggap telah membantu untuk mendukung prospek ekonomi global yang cerah.(WD)

Related posts