Nikkei Terpuruk Akibat Kekhawatiran Terhadap Berlanjutnya Trade Wars

Pada penutupan sesi perdagangan waktu Asia, indeks saham Nikkei ditutup di kisaran yang lebih rendah untuk pertama kalinya dalam empat sesi perdagangan terakhirnya di Tokyo Stock Exchange, akibat dari kerugian yang diderita oleh pasar ekuitas AS semalam serta ditambah dengan kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan yang belum jelas dalam sengketa perdagangan AS-Cina.

Indeks rata-rata Nikkei ditutup turun 0.35% pada sesi penutupan perdagangan waktu Asia sore ini, sementara indeks saham Topix mencatat pelemahan sebesar 0.45% di waktu yang sama.

Pada awal sesi perdagangannya, sejumlah kalangan menilai bahwa indeks Nikkei kemungkinan akan segera pulih, menyusul potensi peningkatan pembelian saham yang terkait dengan mesin, setelah kantor kabinet mengumumkan bahwa laju pesanan mesin inti di Jepang untuk bulan April menunjukkan kenaikan sebesar 5.2% dari bulan sebelumnya.

Akan tetapi pergerakan indeks justru gagal mempertahankan kenaikannya dan bergerak di sekitar harga penutupan di hari Selasa kemarin, sebelum pada akhirnya tergelincir lebih dalam ke wilayah negatifnya menjelang perdagangan sore hari.

Para pedagang menilai bahwa pergerakan pasar terbebani oleh ktidakpastian terhadap masa depan pembicaraan perdagangan AS-Cina, setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman bahwa akan menerapkan tarif kepada Cina jika Presiden Cina, Xi Jinping tidak bertemu dengan di KTT G20 di Jepang.

Salah seorang pejabat dari perusahaan sekuritas yang berafiliasi dengan Bank, mencatat bahwa resistance pasar saat ini dibatasi oleh kekhawatiran terhadap efek negatif pada industri mesin di Jepang dari imbas sengketa perdagangan yang terjadi, karena data pesanan mesin yang dirilis pada pagi hari tadi merupakan data di bulan April dan bukan di bulan Mei saat konflik perdagangan AS-Cina mengalami peningkatan.

Para investor nampaknya menghindari pembelian dan penjualan secara aktif di sesi perdagangan sore hari, akibat dari kelangkaan insentif perdagangan baru, sehingga memperlambat aktifitas di pasar.

Saham investor teknologi asal Jepang, SoftBank Group Corp mencatat penurunan 2.4%, setelah sekelompok jaksa agung negara bagian AS mengajukan gugatan untuk melakukan pemblokiran rencana merger dari perusahaan operator ponsel terbesar keempat di AS, Sprint Corp yang berafiliasi dengan SoftBank, dengan operator ponsel ketiga terbesar di AS, T-Mobile US Inc. Kerugian juga dicatat oleh saham produsen robot industri Yaskawa Electric Corp serta perusahaan jaringan supermarket Kobe Bussan Co.

Akan tetapi hal sebaliknya justru terjadi terhadap saham perusahaan trading house, Itochu Corp yang mencatat kenaikan 2.14%, seiring tanggapan para investor terhadap pengumuman dari rencana mereka untuk melakukan buyback sahamnya. Perusahaan jaringan toko pakaian terkemuka Jepang, Fast Retailing Co serta pengecer barang otomotif Autobacs Seven Co juga ditutup dengan mencatat kenaikan.(WD)

Related posts