Header Ads

Pasar Kembali Dihantam Pemangkasan Suku Bunga Darurat The Fed Dan RBNZ

Pasar saham mengalami hantaman yang besar di sesi perdagangan awal pekan ini, khususnya bursa saham di kawasan Asia, setelah Federal Reserve dan Reserve Bank of New Zealand melakukan pemangkasan suku bunga darurat, menyusul serangkaian langkah oleh para pembuat kebijakan di seluruh dunia yang nampaknya gagal untuk membendung kekalahan pasar yang dilanda ketakutan akibat meluasnya virus COVID-19.

Indeks saham patokan Australia turun 7% pada jam pertama perdagangan sebelum mengurangi sebagian kerugian. Minyak mentah AS turun 5% di bawah $30 per barrel.

Bursa saham Selandia Baru turun 3%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 3.06%, indeks Kospi Korea Selatan bergerak 1.88% lebih rendah, sedangkan indeks saham Hangseng mencatat penurunan 1.97% di sesi pertama perdagangannya.

Federal Reserve AS memangkas suku bunga 100 basis poin pada hari Minggu ke kisaran target 0% hingga 0,25%, dan ini merupakan pemangkasan suku bunga darurat untuk kedua kalinya dalam bulan ini. Selain itu disebutkan bahwa mereka akan memperluas neraca setidaknya hingga $700 milliar dalam beberapa pekan kedepan.

Ahli Strategi Pasar Global di JPMorgan Asset Management, Kerry Craig mengatakan bahwa ini bisa jadi kesempatan bagi aset berisiko dan membantu permasalahan likuiditas, namun semua ini bisa menimbulkan pertanyaan apakah The Fed memiliki sisa kebijakan jika penyebaran virus tidak mampu ditahan.

Selain itu dikabarkan bahwa Bank sentral Selandia Baru juga memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin, menenggelamkan mata uang negara itu, karena bank sentral bersiap untuk menghadapi guncangan di perekonomiannya.

Lima bank sentral lain juga memangkas harga pada jalur swap mereka untuk memudahkan menyediakan mata uang Dollar kepada lembaga keuangan mereka yang menghadapi tekanan di pasar kredit.

Kebijakan swap ini ditetapkan oleh The Fed, Bank of Canada, European Central Bank, Bank of England, Bank of Japan serta Swiss National Bank, selama terjadinya krisis keuangan sebelumnya.

Su-lin Ong selaku ekonom di RBC mengatakan dalam sebuah catatannya, bahwa pasar global saat ini telah mengalami dislokasi lebih lanjut dengan meningkatnya tanda-tanda stress di sejumlah pasar, penurunan likuiditas secara tajam dan aksi harga yang mengindikasikan terjadinya penjualan paksa oleh para investor.

Beliau juga menambahkan bahwa selain hanya pengetatan kondisi keuangan, risikonya adalah langkah ini memperburuk ekonomi riil yang terus berjuang seiring timbulnya permasalahan COVID-19.(WD)

Related posts