Header Ads

Pasar Saham Asia Ditekan Kekhawatiran Gelombang Kedua Covid-19

Semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap gelombang kedua infeksi virus corona di Beijing sehingga membuat para investor mengalihkan dana mereka ke aset safe haven dan menyebabkan kejatuhan pasar ekuitas serta tekanan dari data underwhelming dari Cina yang membebani sentimen.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0.3% seiring saham Australia yang turun 0.1% dan Korea Selatan berkurang 0.3%, sementara indeks saham Nikkei Jepang juga mengalami perdagangan yang tersendat dan melemah 0.7%.

Kerugian yang diderita pasar ekuitas global ini terjadi setelah mengalami reli sejak akhir Maret lalu, yang dipicu oleh kebijakan stimulus fiskal dari bank sentral serta optimisme setelah sejumlah negara mencabut kebijakan lockdown secara bertahap.

James McGlew selaku analis di pialang saham Argonaut, mengatakan bahwa setiap wabah baru akan dipandang sangat hati-hati oleh para investor dan pasar menempatkan perspektif bahwa masalah pandemi Covid-19 belum dapat terselesaikan dan ini adalah sebuah realitas dan beliau memperkirakan bahwa akan terjadi koreksi lebih lanjut karena pasar mengukur apa yang ada di depan kita.

Sentimen terhadap aset berisiko juga mengalami pukulan setelah pihak Beijing mencatat peningkatan jumlah kasus infeksi Covid-19 dalam beberapa hari terakhir, yang semuanya berkaitan dengan pasar grosir makanan utama, yang mana pihak berwenang telah menutup pusat penyebaran sekaligus mengunci distrik perumahan yang ada di dekatnya.

Investor juga mengkhawatirkan lonjakan kasus yang terjadi di AS, yang mana lebih dari 25 ribu kasus baru telah dilaporkan di hari Sabtu kemarin.

Selain itu data ekonomi dari Tiongkok ternyata tidak hanya membantu membangkitkan selera terhadap asset berisiko, seperti output industri Cina yang naik 4.4% di bulan Mei dari periode yang sama di tahun sebelumnya, dan masih lebih rendah dari perkiraan analis di angka 5.0%, sementara untuk laju penjualan ritel dilaporkan turun 2.8%, lebih besar dari perkiraan sebagai tanda lemahnya permintaan domestik.

Dalam sebuah catatannya analis di Morgan Stanley mengatakan bahwa pihaknya berasumsi bahwa setiap gelombang kedua dari penyebaran wabah, cenderung lebih mudah dikelola dibandingkan yang pertama, dan setidaknya analis berharap adanya kebangkitan kembali dalam sentimen di pasar.(WD)

Related posts