Pertumbuhan Indeks Harga Produsen Cina Dilaporkan Melambat

Laju inflasi dari sisi produsen di Cina dilaporkan melambat di bulan Oktober, di tengah meningkatnya permintaan domestik untuk bahan baku serta melambatnya aktifitas sektor manufaktur. Hasil ini sekaligus menggarisbawahi meningkatnya tekanan terhadap ekonomi dalam menghadapi friksi perdagangan yang semakin memanas dengan AS. Sedangkan indeks harga konsumen masih tetap stabil di bulan Oktober dari bulan sebelumnya, seiring stabilnya harga pangan.

National Bureau of Statistics (NBS) melaporkan indeks harga produsen, yang dipakai sebagai ukuran harga bisnis yang diterima untuk barang dan jasa, tumbuh 3.3% di bulan Oktober dibanding periode yang sama di tahun lalu, lebih rendah dari pertumbuhan 3.6% pada bulan September. Angka ini juga sesuai dengan perkiraan para analis dalam survey Reuters. Harga bahan baku naik hingga 6.7% di bulan Oktober dari sebelumnya, namun masih lebih rendah dari kenaikan 7.3% pada bulan September sebelumnya.

Momentum pertumbuhan ekonomi Cina telah melemah dalam beberapa bulan terakhir, sejalan dengan pernyataan Presiden Xi Jinping pada pekan lalu yang mengatakan bahwa ekonomi Cina tengah menghadapi tekanan turun yang terus meningkat. Dengan pertumbuhan investasi aset tetap Cina yang berada di rekor terendah serta menurunnya laba perusahaan industri sejak bulan Mei lalu, mendasari penurunan inflasi produsen dalam beberapa bulan terakhir sehingga mengurangi konsumsi. Survei terhadap aktifitas pabrik, baik dari lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, telah menunjukkan kekhawatiran terhadap laju pesanan ekspor, sehingga memberikan gambaran sektor bisnis yang terbebani oleh sengketa perdagangan AS-Cina.

Bagaimanapun data pemerintah mengenai laju ekspor teleh menunjukkan kekuatan, menyusul para eksportir yang bergegas untuk melakukan pengiriman barangnya sebelum diberlakukannya tarif AS yang lebih tinggi yang akan mulai berlaku di awal tahun depan. Pada saat yang sama NBS juga melaporkan indeks harga konsumen Cina yang tumbuh stabil di angka 2.5% di bulan Oktober.(WD)

Related posts