Produsen Otomotif Jerman Memperingatkan Konsekuensi Buruk Dari Brexit Tanpa Kesepakatan

Para perusahaan produsen otomotif di Jerman memperingatkan bahwa akan sangat fatal konsekuensi jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan terkait, yang mana hal ini terkait dengan banyaknya lapangan kerja yang hilang di Inggris dan Eropa, sembari mendesak para anggota parlemen untuk menggandakan upaya untuk memastikan perdagangan bebas tarif terus berlanjut.

Kesepakatan Perdana Menteri Theresa May untuk meninggalkan Uni Eropa menderita kekalahan yang luar biasa di parlemen pada hari Selasa, sehingga para produsen tengah bersiap-siap dengan adanya skenario terburuk yaitu keluarnya Inggris dari Eropa tanpa adanya kesepakatan apapun diantara kedua pihak. Dalam hal ini Inggris akan menjadi pihak yang paling menderita jika kehilangan akses ke perdagangan bebas dengan pasar Eropa karena sekitar 80% produk otomotif yang dirakit di negara tersebut diekspor ke sebagian besar pasar di Uni Eropa, dan hal ini juga menjadi pertaruhan yang besar bagi Jerman.

Pada 2016, Inggris adalah pasar ekspor tunggal terbesar bagi pabrikan Jerman, yang menjual 800.000 mobil baru di sana, atau 20% dari keseluruhan ekspor global mereka. BMW, Volkswagen dan Daimler, perusahaan induk Mercedes-Benz, mendesak politisi Inggris untuk menciptakan kejelasan tentang Brexit dan memastikan perdagangan bebas tarif dapat berlanjut.

BMW yang membangun sekitar 60% kendaran Mini di pabrik yang terletak di Oxford, Inggris Selatan, sangat bergantung pada komponen yang diimpor dari pabriknya yang terletak di Jerman. Mengenai tarif yang merupakan satu permasalahan bagi produsen otomotif bervolume rendah dengan margin yang relatif rendah seperti Toyota, yang memiliki pabrik di wilayah Derby serta pabrik Nissan yang beroperasi di kota Sunderland, yang sangat bergantung pada impor komponen untuk melayani para konsumen di Inggris.

Pihak Volkswagen menilai bahwa hal ini merupakan fase lebih lanjut dari ketidakpastian dan hal ini menghambat kemampuan mereka untuk merencanakan hal ini dalam waktu kedepan. Untuk itu para produsen otomotif tersebut memerlukan kejelasan mengenai tentang sifat hubungan antara Inggris dan Uni Eropa.(WD)

Related posts