Header Ads

Regulator Sekuritas AS Akan Menerapkan Aturan Baru Bagi Produk ETF

Pihak regulator sekuritas AS telah mengusulkan penerapan peraturan baru untuk penggunaan dana bagi transaksi derivatif yang dilakukan oleh para investment fund, guna memperkenalkan sejumlah perlindungan bagi produk investasi yang lebih berisiko sekaligus juga untuk meningkatkan persaingan di pasar sekuritas.

Lembaga Securities and Exchange Commission (SEC) telah mengajukan proposal yang mengacu pada adanya kekhawatiran terhadap risiko yang ditimbulkan oleh apa yang disebut sebagai inverse and leveraged dari produk exchange traded funds (ETF), setelah mereka melihat sejumlah produk investasi yang mengalami kerugian besar selama terjadinya lonjakan dalam volatilitas pasar pada bulan Februari 2018 lalu yang dijuluki “Volmageddon”.

Para kritikus telah menyalahkan kerugian yang semakin besar akibat dari rumitnya aturan sebelumnya yang tidak dipahami oleh banyak investor.

Dalam proposal yang diterbitkan di awal pekan ini, diterbitkan kembali proposal yang telah diajukan pada 2015 sebelumnya, yang dimaksudkan untuk menggantikan sistem persetujuan produk ad hoc saat ini, yang telah memungkinkan perusahaan seperti ProShares dan Direxion untuk mendapatkan persetujuan bagi produk-produk inverse and leveraged mereka.

Para pemain di industri tersebut telah lama mengeluhkan mengenai kurangnya aturan yang konsisten, sehingga secara efektif telah menghalangi para pemain baru dalam produk ini untuk memasuki pasar guna bersaing dengan pemain lainnya.

Terkait akan hal ini, Ketua dari SEC, Jay Clayton mengatakan bahwa dengan membakukan kerangka kerja untuk manajemen risiko derivatives fund, maka proposal tersebut akan menguntungkan para investor, fund dan pasar. Produk ETF yang berada di jalur perdagangan saham dan menjadi populer karena biaya yang lebih rendah, namun beberapa diantaranya justru tumbuh untuk memasukkan unsur derivatif guna memperkuat pengembalian bagi para investornya.

Sementara untuk ETF yang mengalami leverage, berupaya untuk meningkatkan kinerja indeks dimana produk tersebut berada, seperti yang terjadi di indeks saham S&P500 dalam pergerakan intraday. Sedangkan produk inverse ETF juga berupaya untuk mencapai kinerja yang berlawanan, yang memungkinkan para investor untuk menghasilkan uang disaat pasar atau indeks yang mendasarinya mengalami penurunan.

Pihak SEC menyatakan bahwa jika aturan baru ini diadopsi maka aturan tersebut mengharuskan lembaga funds untuk membatasi tingkat leverage hingga 150% berdasarkan value-at-risk, yang mana hal ini memungkinkan produk-produk inverse and leverage untuk membatasi hasil investasi mereka hingga 300% dari tingkat pengembalian atau kebalikannya dari indeks yang mendasarinya.

Dalam peraturan itu juga mengharuskan semua lembaga funds dan konsultan untuk menentukan di awal apakah pelanggan mampu mengevaluasi risiko instrumen tersebut, sebelum mengizinkan investor untuk melakukan transaksi perdagangan di produk inverse and leverage ETF.

Selain itu pihak perusahaan juga harus menerapkan program manajemen risiko yang mencakup penjabaran dalam prospektus mereka apakah mereka akan tunduk terhadap batasan yang diusulkan terhadap risiko leverage dari lembaga funds.

Pihak regulator juga mengatakan bahwa mereka akan membayar pengecualian untuk perusahaan yang membatasi eksposur derivatif hingga 10% dari nilai aset bersih atau menggunakan derivatif hanya untuk melindungi risiko terhadap mata uang tertentu.(WD)

Related posts