Header Ads

Royal Dutch Shell Membukukan Laba Q3 Yang Lebih Rendah

Perusahaan raksasa pertambangan minyak asal Belanda, Royal Dutch Shell melaporkan laba bersih kuartal ketiga yang lebih lemah dari perkiraan di hari ini, sembari mengutip harga energi yang lebih rendah serta besaran margin dari produk bahan kimia.

Penghasilan bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham atas dasar biaya persediaan saat ini, current cost of supplies (CCS), yang digunakan sebagai proksi untuk laba bersih dan tidak termasuk item yang diidentifikasi, berada di angka $4.767 milliar di periode kuartal ketiga.

Angka tersebut lebih rendah dari perolehan laba sebesar $5.624 milliar di periode yang sama setahun sebelumnya, namun masih lebih tinggi dibandingkan perolehan sebesar $3.462 milliar pada kuartal kedua sebelumnya.

Sementara menurut data dari Refinitiv, para analis memperkirakan laba bersih kuartal ketiga yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham berdasarkan CCS, dan tidak termasuk item yang diidentifikasi, berada di kisaran $6468 milliar.

Dalam sebuah pernyataannya, Ben van Beurden selaku CEO dari Royal Dutch Shell mengatakan bahwa pada periode kuartal ini pihaknya telah memberikan arus kas dan pendapatan yang kuat meskipun harga komoditas minyak dan gas terus berada di kisaran rendahnya.

Selain itu Shell juga mengumumkan telah meluncurkan tahap berikutnya dari program pembelian kembali saham mereka, dengan mempertimbangkan agregat maksimum sebesar $2.75 milliar pada suatu periode hingga 27 Januari 2020 mendatang. Hingga saat ini perusahaan tersebut telah membeli saham mereka kembali senilai hingga $12 milliar.

Lebih lanjut Beurden mengatakan bahwa niat mereka untuk membeli kembali saham mereka senilai $25 milliar serta mengurangi hutang bersih, akan tetap tidak mengalami perubahan. Lemahnya kondisi ekonomi makro dan prospek yang menantang pasti menciptakan ketidakpastian tentang laju pengurangan gearing hingga 25% sehingga mampu untuk menyelesaikan program pembelian kembali saham dalam jangka waktu 2020.

Dengan laporan laba yang lebih rendah, maka nilai saham dari perusahaan minyak ini mengalami penurunan hingga lebih dari 1%, dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya, di tengah jatuhnya harga minyak serta kekhawatiran mengenai laju permintaan global yang lesu.(WD)

Related posts