Header Ads

Samsung Electronics : Laba Operasional Q1 Kemungkinan Akan Sedikit Naik

Perusahaan produsen semikonduktor terbesar dunia asal Korea Selatan, Samsung Electronics Co Ltd mengatakan bahwa laba operasional mereka di periode kuartal pertama tahun ini kemungkinan akan mengalami sedikit kenaikan dari penurunan di periode yang sama di tahun sebelumnya.

Hal ini diakibatkan oleh laju penjualan produk chip yang solid sehingga mampu membantu meredam pukulan dari pandemi virus corona terhadap penjualan produk smartphone dan televisi.

Samsung diuntungkan oleh permintaan produk chip yang lebih tinggi dari produsen laptop dan perusahaan pusat data di tengah perubahan yang terjadi akibat virus corona yang memaksa konsumen bekerja di rumah, di tengah bisnis elektronik konsumen dan telepon seluler mengalami tekanan.

Mereka mengatakan bahwa pihaknya berharap laba operasi menjadi 6.4 triliun Won ($5.2 milliar) selama kuartal pertama, dari 6.2 triliun Won di kuartal pertama 2019 serta masih lebih tinggi dari estimasi 6.2 triliun Won dari para analis.

Sementara pendapatan kemungkinan naik 5% menjadi 55 triliun Won dari tahun lalu, sejalan dengan estimasi 55.6 triliun Won.

Pada bulan lalu Samsung Electronics mengatakan bahwa pandemi telah merusak laju penjualan produk smartphone, yang berkontribusi sekitar 47% dari total pendapatan mereka di tahun lalu, serta penjualan produk elektronik di tahun ini, sementara permintaan dari pusat data akan memicu pemulihan di pasar memory chip.

Seorang analis di Meritz Securities, Kim Sun-woo mengatakan bahwa meskipun bisnis seluler Samsung terkena dampak pandemi virus di kuartal ini, namun kemungkinan akan menghadapi tantangan yang lebih besar di periode kuartal kedua, dimana AS dan Eropa akan menjadi pihak yang paling mendapatkan pukulan yang keras.

NH Investment & Securities memperkirakan penjualan smartphone premium Samsung 20 akan mencapai 20 juta unit tahun ini, lebih rendah dari perkiraan penjualan 32 juta unit sebelumnya.

Diperkirakan bahwa bisnis memory chip Samsung, yang menghasilkan lebih dari 50% dari laba operasional mereka di tahun lalu, kemungkinan akan menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan di periode paruh pertama tahun ini.

Meningkatnya harga memory chip saat ini akibatkan oleh kenaikan permintaan dari perusahaan pusat data yang mendukung layanan internet seperti streaming dan cloud computing menyusul persyaratan program work from home.

Namun Song Myeong-sup selaku analis di HI Investment & Securities mengatakan bahwa jika pandemi virus corona tidak mereda hingga kuartal ketiga, maka laju permintaan terhadap produk memory chip kemungkinan akan menghadapi guncangan.(WD)

Related posts