Samsung Heavy Mencatat Kerugian Operasional Dalam Empat Kuartal Beruntun

Salah satu dari tiga produsen kapal terbesar di Korea Selatan, Samsung Heavy Industries Co, kembali mencatat kerugian dalam empat kuartal berturut-turut, akibat dari membengkaknya biaya tetap serta biaya komoditas yang semakin tinggi. Perusahaan tersebut membukukan kerugian operasional hingga sebesar 127.3 milliar Won ($111.7 juta) selama periode kuartal ketiga lalu, sekaligus mencatat kerugian yang semakin dalam hingga sebesar 26.7% dari kuartal sebelumnya.

Tingkat penjualan anjlok hingga 25% di tingkat tahunan, dan 2.4% dalam periode tiga bulan, hingga senilai 1.31 triliun Won. Pasca laporan ini nilai saham Samsung heavy sontak jatuh 8.76% di sesi perdagangan bursa Kospi. Adapun berlanjutnya kerugian ini akibat dari peningkatan biaya umum dan administrasi serta biaya tetap lainnya, meskipun laju penjualan juga mencatat peningkatan. Selain itu lonjakan biaya produk dan peralatan baja yang mencapai 177 milliar Won ditambah dengan kewajiban untuk menanggung biaya hingga 90 milliar Won dalam perjanjian upah selama tiga tahun, dinilai sebagai faktor terbesar berlanjutnya kerugian yang diderita oleh produsen kapal dan alat berat tersebut.

Seperti diketahui bahwa Samsung Heavy telah mendorong pekerjanya untuk mengajukan pensiun dini sebagai langkah perampingan di tengah melambatnya laju pertumbuhan bisnis tersebut. Meski demikian Samsung Heavy berusaha untuk sedikit menyeimbangkan laporan keuangan mereka dengan memasukkan keuntungan senilai 200 milliar Won dalam fee tambahan dari tagihan terhadap salah satu proyek utama mereka. Pada Agustus lalu mereka memproduksi Floating Production Storage Offloading (FPSO), sebagai fasilitas penyimpanan di ladang minyak Egina di Nigeria, dengan nilai kesepakatan sebesar $3.4 milliar yang mencatat pesanan FSPO terbesar yang pernah ada saat ini.

Faktor berkurangnya hari kerja, seperti libur musim panas dan libur Chuseok, juga berkontribusi terhadap penurunan pendapatan di bulan September. Hingga akhir September lalu, jumlah pinjaman bersih mencapai 1 triliun Won, atau turun 68% dibandingkan akhir 2017 lalu, saat mencapai 3.1 triliun Won. Rasio hutang juga turun menjadi 102% dari 138% di periode yang sama. Pada kesempatan yang sama pihak Samsung Heavy juga merevisi perkiraan penjualan dan pendapatan selama tahun ini. Kerugian operasional diperkirakan akan memburuk menjadi 420 milliar Won, namun pendapatan diperkirakan akan naik menjadi 5.5 triliun Won, seiringharapan pulihnya laju penjualan di kuartal terakhir 2018.(WD)

Related posts