Header Ads

Subaru Mencatat Penurunan Laba Operasional Di Tahun Fiskal Lalu

Produsen otomotif asal Jepang, Subaru Corp mengatakan bahwa laba operasional untuk tahun lalu telah berkurang hingga setengahnya setelah mengalami serangkaian kemunduran termasuk penundaan produksi dan penarikan kembali sejumlah produknya.

Sebagai produsen otomotif terbesar ketujuh di Jepang, Sbuaru telah merilis hasil lebih cepat dari jadwal setelah secara tidak sengaja mengunggah hasil keuangan mereka si situ webnya lebih awal dari yang direncanakan. Pada awalnya mereka menarik materi tersebut, namun sudah banyak media sosial yang melihatnya, sehingga nilai sahamnya mengalami penurunan lebih dari 2% pasca kesalahan tersebut.

Hasil laba operasional secara resmi menunjukkan adanya penurunan 48.5% menjadi ¥195.53 miliar ($1.78 miliar) di tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret lalu, yang mana hasil ini sejalan dengan perkiraan analis. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2020 mendatang, Subaru telah mengharapkan laba operasional akan mengalami lonjakan hingga 33% menjadi ¥260 milliar, dibawah standar akuntansi internasional yang diadopsi dari tahun ini, seiring harapan terhadap pulihnya penjualan produk kendaraan yang berpotensi naik 5.8% menjadi 1.058 juta unit. Di bawah standar akuntansi Jepang yang sebelumnya digunakan, laba operasi akan naik 28 persen menjadi ¥250 miliar.

Hasil suram yang dibukukan oleh Subaru akibat adanya beban oleh biaya yang terkait dengan keterlambatan produksi, setelah ditemukannya komponen kemudi yang rusak sehingga menghentikan produksi di pabrik perakitan tunggal di Jepang selama dua pekan pertama di awal tahun ini.

Pihak Subaru juga tengah menghadapi biaya pemasangan terkait penarikan produk kendaraan mereka di pasar Jepang, setelah pihaknya mengakui telah melakukan kecurangan pada pemeriksaan kualita dalam negeri, di tengah melambatnya laju penjualan produk mereka di pasar AS yang masih menjadi pasar terbesarnya.

Isu-isu terkait kualitas dan produksi perusahaan baru-baru ini adalah efek samping dari pertumbuhannya yang cepat setelah peningkatan dalam output di Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir untuk mengimbangi meningkatnya permintaan untuk model-modelnya yang terlihat kasar. Selama bertahun-tahun Subaru telah berhasil meraih penjualan yang lebih tinggi di AS, namun kenaikan beruntun selama lima tahun terhenti di tahun lalu. Sebagai produsen otomotif terkecil dari produsen otomotif utama Jepang,

Subaru terus berupaya untuk berinvestasi serta mengembangkan produk kendaraan dengan emisi rendah serta layanan transportasi yang sesuai permintaan yang diperlukan untuk bertahan dari pergolakan teknologi yang tengah berlangsung di industri otomotif global. Salah satu upaya mereka adalah dengan membentuk meitraan dengan Toyota Motor Corp, dimana keduanya akan menggunakan teknologi kendaraan yang dikembangkan oleh saingan mereka yang lebih besar dan lebih kaya, termasuk sistem hybrid plug-in dengan tingkat emisi yang rendah.(WD)

Related posts