Thomsen : Perselisihan Perdagangan Antara AS-Cina Akan Berlanjut Pasca KTT G20

Marie Owens Thomsen selaku kepala ekonom global di Indosuez Wealth Management, menilai bahwa tingginya tensi perdagangan antara AS-Cina kemungkinan akan berlanjut dan masih akan menimbulkan masalah di pasar pasca pertemuan keduanya di KTT G20 mendatang.

Lebih lanjut Thomsen mengatakan kepada CNBC, bahwasanya kongres tersebut telah memberikan otoritas eksekutif kepada kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut untuk bernegosiasi tanpa perlu meminta kepada kongres setiap waktu, yang sayangnya sektor perdagangan akan terus menjadi “senjata” mereka untuk mendominasi sektor tersebut, mengingat pentingnya perjanjian perdagangan antar keduanya bagi pasar saham dan ekonomi global.

Salah satu tantangan yang menjadi agenda pembahasan saat para pemimpin keuangan negara anggota G20 menggelar pertemuan di ibukota Argentina, Buenos Aires 6 Desember mendatang, adalah sengketa tarif perdagangan antara AS-Cina. Terlepas dari apapun nanti yang akan disepakati oleh keduanya, hasil pertemuan tersebut sangat penting artinya, baik untuk mereka berdua maupun untuk perdagangan dunia.

Pada awalnya perselisihan ini terjadi pasca Presiden Donald Trump memberlakukan kenaikan tarif sebesar 10% terhadap impor Cina hingga senilai $200 milliar pada bulan September lalu, yang sontak dibalas oleh pihak Tiongkok dengan menetapkan pajak terhadap produk AS hingga senilai $60 milliar.

Hal ini akan semakin rumit setelah AS menetapkan peningkatan pajak menjadi 25% terhadap produk Cina pada awal tahun depan. Selain itu Trump juga mengeluarkan ancaman penetapan bea masuk senilai $267 milliar terhadap lebih banyak jenis produk Cina, jika pihak Beijing tidak mematuhi tuntutannya untuk memangkas subsidi sekaligus meningkatkan akses pasar kepada perusahaan AS, serta membantu menjembatani kesenjangan perdagangan yang mencapai $375 milliar.

Perang perdagangan yang terjadi akhir-akhir ini telah meningkatkan kekhawatiran di pasar global, seiring ekspektasi perlambatan ekonomi serta pendapatan perusahaan di tahun depan yang disuarakan oleh para investor. Kondisi tersebut nampaknya akan semakin diperparah dengan dampak dari pengetatan pasokan uang oleh Federal Reserve dengan kebijakan kenaikan suku bunga mereka.(WD)

Related posts