Trump dan Kim ‘KW’ Akan Menggelar Pertemuan Juga Bersamaan Dengan Pertemuan Bersejarah Trump Dan Kim Asli

singapuraJika semua berjalan sesuai rencana, Presiden AS Donald Trump akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 12 Juni di Singapura, Asia Tenggara.

Gedung Putih menjelaskan mengapa Singapura dipilih setelah para ahli mengajukan sejumlah lokasi yang mungkin seperti: Swiss, Mongolia dan zona demiliterisasi antara Korea Utara dan Korea Selatan.

“Singapura dipilih karena mereka bersedia dan karena mereka memiliki hubungan diplomatik dengan AS dan Korea Utara. Mereka adalah salah satu dari sedikit negara yang memiliki hubungan dengan kedua negara,” kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNBC pada hari Kamis.

Negara dengah jumlah 5.6 juta penduduk adalah tuan rumah yang berpengalaman untuk puncak utama yang melibatkan pejabat tinggi dari seluruh dunia. Pada 2015, negara tersebut dipilih untuk pertemuan penting antara Presiden China Xi Jinping dan mantan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou.

“Kami tidak mengangkat tangan kami tetapi kami diminta,” kata menteri negara untuk urusan luar negeri, Vivian Balakrishnan, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa selama kunjungan kerja ke Washington.

“Orang Amerika mendekati kami terlebih dahulu. Korea Utara kemudian mendatangi kami,” tambahnya, menurut transkrip wawancara. “Saya pikir orang Singapura bisa bangga. Bangga bahwa kami dipilih karena mereka tahu kami netral, dapat diandalkan, dapat dipercaya, dan aman.”

Singapura memiliki undang-undang yang ketat yang membatasi demonstrasi publik. Izin polisi diperlukan untuk mengadakan majelis umum di negara ini. Area taman yang dikenal sebagai Speaker’s Corner di pusat kota Singapura adalah satu-satunya tempat di mana demonstrasi dapat diadakan tanpa izin tetapi pembatasan lain berlaku yakni orang asing tidak boleh berpartisipasi.

Trump dan Kim akan bertemu di Sentosa, sebuah pulau kecil di lepas pantai pulau utama Singapura.

Ketika CNBC menanyakan apakah pembatasan terhadap aksi demo-protes di Singapura memainkan peran dalam pemilihannya di Singapura, pejabat Gedung Putih mengatakan Washington telah “menyampaikan pandangan kami dan percaya pada kebebasan pers.”

“Kami berterima kasih kepada mereka karena menjadi tuan rumah. (Memilih Singapura) ada hubungannya dengan kesediaan dan kemurahan mereka dalam menjadi tuan rumah dan fakta bahwa Korea Utara bersedia melakukannya di sana,” tambah pejabat itu.

Seorang yang berwajah mirip dengan Kim Jong Un yang menggunakan nama Howard X mengatakan kepada Reuters pada hari Jumat bahwa dia ditahan oleh pihak berwenang Singapura dan mengklaim telah diinterogasi saat tiba di Singapura selama 2 jam.

Dalam pemeriksaan, menurut cerita orang yang mirip Kim Jong Un bahwa petugas keamanan Singapura meminta menjauh dari lokasi yang terkait pertemuan Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump. Pria asal Hong Kong ini yang dikenal dengan nama Howard X memang belakangan menjadi terkenal setelah penjadi peniru Kim Jong Un. Dia muncul di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang bersama dengan seorang yang mirip Donald Trump juga.

Di Singapura, Kim Jong Un dan Donald Trump ‘KW’ ini akan berencana menggelar pertemuan bersamaan dengan pembicaraan bersejarah pada hari Selasa (12/6/2018). “Mereka memeriksa tas saya dan kemudian mengatakan bahwa ini adalah masa sensitif untuk berada di Singapura,” ujar Howard. “Saya juga diminta menjahi Pulau Sentosa dan Hotel Shangri-La di dalam kota,” tambah dia lewat akun Facebook-nya. Howard menambahkan, petugas imigrasi akhirnya mengizinkan dia masuk ke Singapura dan kini dia tengah bersiap untuk menyambut momen bersejarah itu.

Namun Otoritas Singapura tidak berkomentar langsung mengenai hal itu, kata Reuters.

Kemampuan keamanan Singapura membuatnya menjadi pilihan yang logis untuk acara tersebut, Joshua Kurlantzick, seorang rekan senior untuk Asia Tenggara di Dewan Hubungan Luar Negeri, menulis dalam catatan hari Rabu.

“Korps diplomatik negara-negara dan personil keamanan dan intelijen sangat dihormati secara global dan menunjukkan berulang kali bahwa mereka dapat menjadi tuan rumah KTT besar tanpa membiarkan adanya gangguan keamanan atau intelijen yang signifikan,” katanya.

Related posts