United Technologies Setuju Untuk Menggabungkan Bisnisnya Dengan Raytheon Co

Perusahaan konglomerat multinasional yang bermarkas di Farmington, Connecticut AS, United Technologies Corp, pada akhir pekan kemarin telah sepakat untuk menggabungkan bisnis kedirgantaraan mereka dengan perusahaan kontraktor Raytheon Co dan sekaligus membentuk perusahaan baru senilai $121 milliar, yang menandakan merger dengan nilai terbesar di sektor ini.

Kesepakatan diantara keduanya akan membentuk konglomerat yang mencakup bisnis penerbangan komersial serta pengadaan untuk pertahanan. Dalam hal ini pihak United Technologies akan menjadi penyedia untuk produksi pesawat komersial dengan peralatan elektronik, komunikasi dan lainnya. Sedangan pihak Raytheon akan menjadi pemasok pesawat militer untuk pemerintah AS serta produk peralatan rudal.

United Technologies mengatakan bahwa mereka berada di jalur untuk memisahkan AC Carrier dan bisnis lift Otis, membuat perusahaan fokus pada bisnis kedirgantaraannya melalui akuisisi Rockwell Collins senilai $ 23 miliar, yang selesai pada 2018, dan bisnis mesin Pratt & Whitney. Otoritas Cina telah meneliti proses akuisisi dari produsen suku cadang pesawat, Rockwell Collins secara cermat, mengingat bahwa jejak perusahaan tersebut di pasar Cina.

Keterlambatan mengenai proses akuisisi tersebut, dinilai oleh analis disebabkan oleh ketegangan hubungan dagang antara AS dengan Cina, namun sebuah sumber yang dapat dipercaya menyampaikan bahwa perusahaan tersebut tidak mengharapkan terulangnya penelitian oleh pihak otoritas Cina, menyusul pihak raytheon yang sudah tidak melakukan bisnis mereka di Cina.

Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan pada hari Minggu, pemegang saham Raytheon akan menerima 2.3348 saham di perusahaan gabungan untuk setiap saham Raytheon. Merger ini diharapkan menghasilkan sinergi biaya lebih dari $1 miliar pada akhir tahun keempat. Sementara para pemegang saham United Technologies akan memiliki sekitar 57% dari bisnis gabungan, yang disebut Raytheon Technologies Corporation, yang akan dipimpin oleh Greg Hayes, yang saat ini menjabat sebagai Chief Executive dari United Technologies Inc.

Perusahaan gabungan yang baru dibentuk ini diperkirakan mampu mengembalikan modal antara $18 milliar hingga $20 milliar kepada para pemegang sahamnya dalam jangka waktu tiga tahun pertama setelah kesepakatan dapat diselesaikan. Selain itu diproyeksikan bahwa perusahaan gabungan tersebut akan mengasumsikan hutang bersih sekitar $26 milliar.

Raytheon, pembuat sistem rudal Tomahawk dan Patriot, dan kontraktor militer AS lainnya diharapkan mendapat manfaat dari permintaan global yang kuat untuk jet tempur dan amunisi serta pengeluaran pertahanan AS yang lebih tinggi pada tahun fiskal 2020. Namun sebaliknya pihak United Technologies dapat mengambil manfaat dari pengurangan eksposurnya kepada klien di bisnis dirgantara komersial di tengah kekhawatiran terhadap meningkatnya proteksionisme perdagangan internasional yang akan menimbulkan tekanan kepada pertumbuhan ekonomi serta sekaligus membebani arus barang melalui jalur lalu lintas udara.

United Technologies menunjuk Morgan Stanley, Evercore Inc dan Goldman Sachs Group Inc sebagai penasihat keuangannya dalam hal ini, sementara Wachtell, Lipton, Rosen & Katz akan bertindak sebagai penasihat hukum mereka. Sedangkan pihak Raytheon menunjuk Citigroup Inc sebagai penasihat keuangannya, dan RBC Capital market LLC akan bertindak sebagai fairness consultant serta Shearman & Sterling LLP sebagai penasihat hukumnya.(WD)

Related posts