Wall Street Anjlok Akibat Jatuhnya Yield Treasury AS

Bursa saham Wall Street anjlok di sesi perdagangan hari Rabu kemarin waktu setempat, sekaligus menorehkan catatan kinerja terburuk dari indeks Dow Jones Industrial Average setelah pasar obligasi meluncurkan sinyal tentang ekonomi AS yang mengkhawatirkan.

Imbal hasil treasury 10-tahun AS sempat menembus hingga level terendahnya dalam dua taun terakhir, yang mana ini merupakan fenomena yang dinilai aneh bagi pasar obligasi yang hingga saat ini menjadi indikator bagi tanda-tanda resesi di AS.

Hal ini diakibatkan oleh para investor yang merasa khawatir mengenai kondisi ekonomi dan bergegas mengalihkan dananya ke aset safe haven untuk jangka panjang, sehingga memberikan tekanan terhadap yield obligasi treasury 30-tahun ke rekor terendahnya di perdagangan kemarin.

Indeks Dow Jones turun hingga 3.05%, yang merupakan penurunan terburuknya di tahun ini, sementara indeks S&P 500 mencatat penurunan hingga 2.93%, sedangkan indeks Nasdaq Composite melemah 3.02%. Penurunan ini banyak ditekan oleh jatuhnya saham-saham di sektor perbankan, akibat kondisi yang semakin sulit bagi sektor tersebut untuk menghasilkan keuntungan dari sektor pinjaman di tengah kondisi saat ini.

Bank of America dan Citigroup turun masing-masing 4.6% dan 5.3%, sementara J.P. Morgan turun 4.2%, sehingga menekan sektor keuangan turun lebih dari 10% dari level tertingginya baru-baru ini. Saat ini para investor semakin khawatir mengenai perlambatan ekonomi global seiring data yang lemah dari perkiraan di Cina yang memperdalam kesuraman di negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Hal ini mengacu kepada data pertumbuhan output industri Cina yang dilaporkan melambat menjadi 4.8% pada bulan Juli dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang merupakan pertumbuhan terlemahnya dalam 17 tahun terakhir.

Selain itu data ekonomi Eropa menunjukkan bahwa risiko terjadinya resesi di Jerman semakin meningkat menyusul data GDP yang negatif. Demikian juga dengan data GDP untuk Eurozone yang hanya tumbuh 0.2%, yang mencatat perlambatan signifikan dari pertumbuhan 0.4% di kuartal pertama.

Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro, mengatakan bahwa masih ada tujuh masalah struktural yang perlu diselesaikan oleh AS dan Cina melalui negosiasi. Permasalahan tersebut termasuk masalah intrusi dunia maya ke jaringan bisnis AS, transfer teknologi paksa, pencurian kekayaan intelektual, dan manipulasi mata uang.(WD)

Related posts