Wall Street Kembali Mencatat Penurunan Menjelang Laporan Pendapatan Kuartal Ketiga

Sehari menjelang dirilisnya laporan triwulanan, bursa Wall Street melanjutkan kembali penurunannya di sesi perdagangan Kamis waktu setempat, seiring para investor merasa khawatir terhadap kenaikan suku bunga dan tengah bersiap menghadapi perselisihan perdagangan yang semakin berkelanjutan sehingga berpotensi memukul laba perusahaan.

Indeks saham S&P justru mencatat penurunan dalam enam hari berturut-turut, dengan membukukan pelemahan hingga 2.o6% ke level terendahnya sejak awal Juli lalu pada sesi perdagangan semalam. Sementara indeks Nasdaq sempat mencoba untuk menghindari konfirmasi koreksi pasar yang terjadi, namun pada akhirnya justru mencatat penurunan hingga 1.25% dari rekor penutupan tertingginya pada 29 Agustus lalu, sedangkan indeks utama Dow Jones mencatat penurunan 2.13%.

Pelemahan ini disebabkan oleh kekhawatiran yang semakin tinggi di kalangan investor yang menilai bahwa pasar ekuitas akan mengalami pemulihan akibat dari kenaikan suku bunga, sementara kondisi saat ini bertepatan dengan ketidakpastian yang mendera pasar mengenai seberapa besar tekanan yang akan dialami oleh pertumbuhan laba perusahaan menyusul semakin tingginya eskalasi perselisihan perdagangan antara AS-Cina.

Sebanyak 11 sektor utama indeks S&P mengakhiri sesi perdagangan AS dengan rapor merah, dan hanya sektor layanan komunikasi yang mampu mengurangi penurunannya kurang dari 1%, sementara sektor energi kembali tercatat sebagai “biggest loser” dengan membukukan penurunan hingga 3.1% seiring harga minyak yang jatuh ke level terendahnya dalam dua pekan terakhir, menyusul laporan persediaan minyak AS yang lebih besar dibandingkan perkiraan.

Pada dasarnya pergerakan saham sempat mendapatkan dukungan dari data ekonomi CPI yang menunjukkan kenaikan harga konsumen yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, sehingga dinilai mampu untuk membantu mengurangi kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi. Akan tetapi investor nampaknya masih akan menghadapi kekhawatiran tentang ketidakpastian yang melanda menjelang pemilihan Kongres jangka menengah pada awal November mendatang, serta sejumlah komentar bernada hawkish dari beberapa pejabat Federal Reserve.(WD)

Related posts