Header Ads

Wall Street Mencatat Penurunan Tajam Di Awal Pekan

Bursa saham Wall Street menderita kerugian harian terbesarnya dalam dua tahun terakhir di sesi perdagangan Senin waktu AS, Seiring aksi jual saham-saham di sektor energi dan teknologi yang terjadi di tengah semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi wabah virus corona.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 3.56%, sementara indeks S&P 500 ditutup 3.35% lebih rendah, sedangkan indeks Nasdaq Composite kehilangan 3.71% di sesi penutupan perdagangannya semalam.

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa “peningkatan mendadak dalam kasus-kasus baru” di luar China “sangat memprihatinkan,” menyusul kenaikan infeksi Covid-19 di Italia, Korea Selatan dan Iran. Hingga saat ini Italia melaporkan lebih dari 220 kasus virus, dengan lima kematian hingga awal pekan ini, sementara Korea Selatan memberikan konfirmasi adanya 231 kasus infeksi sehingga total berjumlah 830 warga yang terinfeksi, sedangkan Iran melaporkan ada total 61 kasus dengan 12 kematian yang tercatat hingga saat ini.

Perusahaan semikonduktor yang dianggap sebagai sumber pertumbuhan penting bagi Cina, memimpin penurunan di sektor teknologi yang lebih luas, dengan Advanced Micro Devices dan Nvidia yang mencatat penurunan sebesar 7% serta Texas Instruments yang turun sebesar 5%. Namun, penyebaran virus itu telah mendorong investor berharap Federal Reserve akan menyusun langkah penyelamatan dan memberikan penurunan suku bunga lebih cepat.

Dalam sebuah catatannya firma Suntrust mengatakan bahwa ekonomi AS kemungkinan akan terpengaruh, namun berdasarkan latar belakang saat ini, risiko resesi masih nampak relatif rendah, yang mana sebagian hambatan mampu diimbangi oleh penurunan suku bunga dan harga energi.

Tetapi anggota Fed tampaknya tidak bersedia untuk bergeser dari panduan kebijakan mereka yang saat ini tengah diterapkan, setidaknya untuk saat ini.

Hal ini dikemukakan oleh Presiden Federal Reserve Bank Cleveland, Loretta Mester yang mengatakan bahwa dalam pandangannya, sikap kebijakan mereka saat ini masih tepat mengingat prospek pertumbuhan yang mendekati laju trennya, serta kondisi pasar tenaga kerja yang solid dan tingkat inflasi yang tidak jauh dari target 2% dari bank sentral.

Sedangkan pergerakan saham di sektor energi menderita kerugian tajam dan mencatat penurunan hingga 4.7%, menyusul penurunan harga minyak akibat penyebaran virus yang memicu kekhawatiran terhadap laju permintaan minyak dari Cina.(WD)

Related posts