Wall Street Mencatat Penurunan Terbesarnya Sejak 1987

Wall Street mencatat penurunan terbesarnya sejak terjadinya crash tahun 1987 pada sesi perdagangan Senin kemarin, menyusul serangkaian langkah yang belum pernah dilakukan oleh The Fed sebelumnya, dengan memangkas suku bunga darurat sebanyak 2x dalam waktu singkat.

Tidak hanya Federal Reserve yang memangkas suku bunga hingga 100 basis poin, namun pihak Gedung Putih dan Kongres telah setuju untuk menambah neraca keuangan mereka hingga $700 milliar dalam beberapa pekan kedepan guna mengantisipasi sekaligus memperlambat penyebaran virus corona yang memberikan hantaman besar bagi ekonomi mereka.

Itu adalah penurunan persentase harian terbesar ketiga dalam catatan, sejak terjadinya kerugian “Black Monday” di tahun 1987 dan Great Depression pada Oktober 1929.

Kekhawatiran yang merebak terhadap penyebaran virus corona, berubah menjadi pandemi dengan sangat cepat, sehingga melumpuhkan sendi-sendi perekonomian global dan menghancurkan laju pendapatan korporasi. Investor tampak semakin khawatir tentang seberapa efektif pembuat kebijakan akan dapat mengurangi kerusakan ekonomi dari penyebaran virus.

Bursa saham AS anjlok lebih dalam menjelang sesi akhir perdagangan setelah Presiden Donald Trump mendesak AS untuk menghentkan sebagian besar kegiatan sosial selama 15 hari kedepan, dan menyerukan untuk tidak berkumpul lebih dari 10 orang, sebagai sebuah langkah baru dan cukup berani untuk meredam penyebaran virus corona di AS.

Saat ini sebagian besar pengamat pasar tengah bersiap untuk kemungkinan ekonomi di jalur menuju resesi, namun demikian mereka menilai masih terlalu dini untuk mengetahui sejauh mana penurunan ekonomi sepenuhnya.

Di penutupan perdagangan AS semalam, indeks Dow Jones ditutup lebih rendah 12.93%, sementara S&P turun hingga 11.98%, dan Nasdaq Composite melamah dan akhirnya ditutup 12.32% lebih rendah.

Lantai bursa Wall Street sempat mengalami suspend di awal perdagangannya selama 15 menit, karena indeks S&P 500 anlok hingga 8%, melewati batas penurunan maksimal 7%.

Sektor real estate menjadi sektor yang terlemah dari 11 sektor utama S&P 500 dengan mencatat penurunan 16.5%, yang merupakan penurunan persentase harian terbesar sejak 2009 silam.

Sementara sektor teknologi turun sebesar 13.9%, mencatat rekor penurunan intraday bagi sektor yang dianggap lebih bullish dari semua sektor di indeks S&P.

Guna meredam spekulasi yang beredar bahwa pemerintah kemungkinan akan menutup bursa dalam upaya menghentikan jatuhnya harga saham, kepala regulator sekuritas AS mengatakan bahwa pasar harus tetap terbuka.(WD)

Related posts