Investasi Bisnis AS Melemah Tajam Dari Perkiraan

Laju investasi bisnis AS mengalami kontraksi lebih tajam dari yang sebelumnya diperkirakan selama periode kuartal kedua serta turunnya pertumbuhan laba perusahaan yang membayangi laju perekonomian, di tengah kekhawatiran pasar keuangan terhadap risiko terjadinya resesi.

Investasi bisnis mengalami penurunan 1.0% di tingkat tahunan pada kuartal lalu, yang tercantum dalam pembacaan data GDP pemerintah. Penurunan ini menjadi penurunan paling tajam sejak kuartal keempat di 2015 lalu. Sebelumnya investasi bisnis diperkirakan turun sebesar 0.6%.

Hal ini disebabkan juga oleh penurunan laju pengeluaran untuk struktur sebesar 11.1%, yang memberikan cerminan penurunan dalam kategori komersial dan kesehatan serta eksplorasi pertambangan serta shafts and wells. Laba setelah dipotong pajak tanpa melalui penilaian inventaris dan penyesuaian konsumsi modal, yang sesuai dengan standar laba dari S&P 500, mengalami peningkatan ke level 3.3% yang telah direvisi turun.

Tingkat keuntungan sebelumnya dilaporkan telah mengalami kenaikan di angka 4.8% di periode kuartal kedua. Pengeluaran bisnis yang lemah dan pertumbuhan laba yang cenderung moderat dapat menimbulkan keraguan pada kemampuan konsumen untuk terus mendorong perekonomian.

Selain itu data Produk Domestik Bruto dilaporkan mengalami peningkatan di 2.0%, seiring belanja konsumen yang kuat dalam periode empat setengah tahun terakhir, sehingga mampu mengimbangi ekspor yang lemah dan laju investasi persediaan yang lebih lambat. Laju ekonomi tumbuh sebesar 3.1% di periode Januari-Maret, yang diperluas dari 2.6% di paruh pertama tahun ini.

Jika diukur dari sisi pendapatan, ekonomi AS tumbuh sebesar 1.8% di periode kuartal kedua. Pendapatan domestik bruto (GDI) sebelumnya dilaporkan telah meningkat pada kecepatan 2.1% pada kuartal April-Juni. Naik pada tingkat 3.2% pada kuartal pertama.

Rata-rata besaran GDP dan GDI, yang dianggap sebagai acuan yang lebih baik dari kegiatan ekonomi, mencatat kenaikan 1.9% di kuartal lalu, dari pertumbuhan 2.1% yang diperkirakan di bulan lalu. Mencatat perlambatan dari laju pertumbuhan sebesar 3.2% dalam periode kuartal pertama di tahun ini.

Perselisihan perdagangan dengan Cina yang terjadi dalam hampir 15 bulan di bawah pemerintahan Trump, telah mengancam ekspansi ekonomi terpanjang yang pernah tercatat sebelumnya. Trade War yang terjadi telah menimbulkan beban bagi investasi manufaktur dan bisnis serta sekaligus memicu kekhawatiran di pasar keuangan terhhadap risiko terjadinya resesi yang semakin meningkat.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pekan lalu bahwa para pembuat kebijakan mengharapkan ekonomi AS akan terus berkembang secara moderat, akan tetapi beliau menegaskan kembali bahwa kelemahan dalam pertumbuhan global dan ketidakpastian kebijakan perdagangan telah membebani ekonomi sekaligus menimbulkan risiko yang berkelanjutan.

Pertumbuhan pengeluaran konsumen, yang berkontribusi hingga dua pertiga dari aktifitas ekonomi AS, mengalami lonjakan hingga 4.6% di periode kuartal kedua, yang mana ini menjadi pertumbuhan dalam laju tercepatnya sejak kuartal keempat di tahun 2014 silam.(WD)

Related posts