Header Ads

5 Fokus Utama Pasar Pekan ini

Menjelang rapat Fed pada 22 September 2021 pekan depan, para partisipan forex market –untuk sementara akan mengalihkan atensinya pada publikasi data US Inflasi  untuk bulan Agustus. Ketetapan waktu kapan Fed akan menerapkan kebijakan reduksi stimulus ekonomi menjadi kunci yang akan melecut sentiment pasar di tengah tingginya laju inflasi.

Inggris juga akan mempublikasikan data inflasi, bersanding dengan data tenaga keraja dan retail sales. Sementara para pejabat  ECB diharapkan dapat menjelaskan lebih detail berkenaan dengan keputusan memangkas pembelian obligasi pada pekan lalu. Dan data dari Cina yang kemungkinan akan menggaris bawahi bahwa laju pemulihan ekonomi nomor dua di dunia ini, mengalami pelambatan.

Inilah 5 Fokus Utama Pasar selama Pekan ini antara lain;

  1. Data  Inflasi Amerika Serikat

Pada hari Selasa esok (14 September 2021) akan dirilis data US Consumer Price Inflation di tengah perdebatan yang masih berlangsung mengenai apakah kenaikan inflasi di Amerika Serikat saat ini akan memudar karena ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan  yang menyebabkan kenaikan harga  pada beberapa bulan terakhir, pada akhirnya mereda.

Pada bulan Juli, harga naik melambat namun masih pada level tertingginya dalam 13 tahun (basis tahunan) di tengah sinyal sementara bahwa inflasi berada pada level puncaknya.  Para investor dan trader juga akan menyimak data US Retail Sales, yang diperkirakan akan menurun untuk dua bulan bersinambung, juga publikasi data Industrial Production dan rilisan University of Michigan untuk item Consumer Sentiment

  • Pasar Saham

Data inflasi Amerika Serikat pada hari Selasa  akan mendikte arah pasar di tengah kekhawatiran bahwa persistensi peningkatan inflasi akan mendorong Fed untuk membatalkan langkah-langkah stimulus darurat.

Dalam beberapa hari terakhir, para pejabat top Fed telah mengisyaratkan bahwa lemahnya data tenaga kerja tidak secara otomatis menghentikan Fed untuk mulai menerapkan aksi Tapering tahun ini.

Namun, dengan prediksi para analis bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga rendah, diperkirakan menjadi faktor positif bagi performa pasar saham.

  • Data Ekonomi Inggris

Pekan kemarin, Gubernur Bank Of England, Andrew Bailey  mengingatkan bahwa rebound ekonomi Inggris melambat, sehingga data minggu ini tentang inflasi, pekerjaan dan penjualan eceran,  akan menjadi focus utama yang diawasi secara ketat, terutama menjelang pertemuan  kebijakan moneter BOE pada 23 September mendatang.

Data Inflasi Inggris pada bulan Juli menunjukkan pelambatan menjadi 2%, sementara penjualan ritel turun 2,5% (basis bulanan). Data pekerjaan pada hari Selasa esok juga akan menjadi focus utama di tengah kekurangan tenaga kerja  dan rekor kenaikan 8.8% dalam pertumbuhan upah pada bulan Juni. Berakhirnya skema cuti dapat mendorong orang ke pasar kerja, tetapi kurangnya keterampilan beresiko memicu tekanan harga yang didorong oleh hambatan pasokan dan harga komoditas.

  • Para Pembicara ECB

Di zona Euro, Kepala Ekonomi ECB, Philip Lane dan Gubernur Bank Finlandia, Olli Rehn, keduanya akan muncul, dan investor berharap lebih banyak wawasan mengenai keputusan pekan lalu untuk mengurangi pembelian obligasi darurat  selama kuartal mendatang.

Langkah ini merupakan pijakan kecil pertama menuju pelonggaran stimulus darurat yang dikerahkan oleh ECB guna meningkatkan ekonomi zona euro selama pandemic virus corona.

Sementara Presiden ECB, Christine Lagarde sangat antusias menekankan bahwa langkah ini bukan awal dari Tapering.

Langkah ECB untuk memangkas pembelian obligasi, diperkirakan akan diikuti oleh Fed akhir tahun ini, meski laporan  pekerjaan Amerika Serikat bulan Agustus berlabel “mengecewakan”.

  • Data dari Cina

Cina akan merilis data produksi industri, penjualan ritel, dan investasi asset tetap pada hari Rabu (15 September 2021) yang akan menunjukan dampak ekonomi dari wabah Covid-19 yang meluas pada bulan Agustus, sehingga mendorong Beijing menutup sebagian pelabuhan peti kemas tersibut ketiga di dunia, serta memberlakukan pembatasan baru di beberapa wilayah.

 Sementara wabah terbaru sebagian besar telah di atasi, namun ekonomi Cina masih menghadapi tantangan.

Di sisi lain, sektor ekspor  masih terlihat kuat, didorong oleh permintaan global yang tetap solid. Namun permintaan domestic melemah di tengah upaya membendung virus corona, macetnya pasokan, kebijakan yang lebih ketat untuk menjinakkan harga properti, serta kampanye untuk mengurangi emisi karbon.

Related posts