BoJ Berpotensi Menjaga Kebijakan Moneter Tetap Stabil

Sebuah sumber berita forex mengatakan kepada Reuters bahwa Bank of Japan berpotensi untuk menjaga kebijakan moneter tetap stabil di pekan depan dan sekaligus menawarkan pandangan optimis secara hati-hati terhadap prospek ekonomi Jepang.

Hal ini menandakan pihak bank sentral telah mengambil langkah-langkah yang cukup saat ini untuk meredam pukulan terhadap ekonomi akibat pandemi virus corona.

Bank of Japan kemungkinan akan sedikit memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini hingga Maret 2021, namun akan tetap berpegang pada pandangannya bahwa Jepang sedang menuju pemulihan secara moderat di akhir tahun ini seiring meredanya pandemi.

Disebutkan bahwa ekonomi akan tetap lemah untuk beberapa waktu namun kejatuhannya tidak terlalu tajam, meskipun risiko terhadap prospek pertumbuhan ekonomi condong ke sisi negatifnya.

Pada tinjauan suku bunga yang akan dirilis pada 15 Juli mendatang, Bank of Japan diharapkan menunda ekspansi stimulus mereka serta membiarkan target suku bunga jangka pendek serta jangka panjang tidak mengalami perubahan setelah meningkatkan stimulus di bulan Maret dan April lalu.

Kenaikan pinjaman bank serta pergerakan pasar yang cenderung stabil akhir-akhir ini, telah memberi ruang bagi BoJ, bahkan saat negara ekonomi terbesar ketiga dunia itu tengah bersiap untuk kemerosotan terburuk pasca Perang Dunia II.

Di tengah kondisi ekspor dan konsumsi tetap lemah, para pembuat kebijakan berharap adanya peningkatan pembelian aset, asilitas pinjaman baru untuk perusahaan-perusahaan yang kekurangan uang serta pencabutan langkah-langkah lockdown di akhir Mei yang akan menghidupkan kembali laju perekonomian.

Dalam langkah yang menggarisbawahi kesulitan untuk memprediksi dampak pandemi, bank sentral telah merilis perkiraan pertumbuhan dan suku bunga dalam kisaran di bulan April yang merupakan perkiraan median dari sembilan anggota dewan kebijakannya.

Dalam laporannya di bulan April lalu, pihak BoJ telah memproyeksikan ekonomi akan mengalami penyusutan sebesar 3.0% menjadi 5.0% di tahun fiskal ini.

Sebelumnya sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap analis, menunjukkan bahwa ekonomi Jepang diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 5.3% di tahun fiskal ini, yang merupakan laju penyusutan terbesar sejak pencatatan data di tahun 1994.

Sebanyak 26 dari 40 ekonom memperkirakan bahwa pihak Bank of Japan akan memperluas kebijakan stimulusnya, sementara 18 ekonom lainnya mengatakan bahwa hal tersebut baru akan terjadi di tahun ini dan lima diantaranya memprediksikan perluasan stimulus akan terjadi di tahun depan.(WD)

Related posts