Header Ads

BoJ Mempertahankan Kebijakan Moneternya

Pada hari ini dewan kebijakan Bank of Japan memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan moneternya tetap stabil dan merevisi perkiraan ekonominya untuk tahun fiskal berikutnya, yang mana hal ini mengisyaratkan pihaknya telah memberikan stimulus yang cukup hingga saat ini sebagai upaya meredam guncangan akibat pandemi virus.

Namun demikian pihak bank sentral telah memperingatkan tentang meningkatnya risiko terhadap prospek ekonomi yang timbul akibat langkah-langkah keadaan darurat baru yang diluncurkan di bulan ini terkait konsumsi serta berpotensi mendatangkan ancaman gagalnya laju pemulihan yang masih dalam kondisi rapuh hingga sekarang.

Dalam laporan kuartalannya mengenai prospek ekonomi, Bank of Japang menyatakan bahwa proyeksi mereka dapat mengalami perubahan yang tergantung pada perkembangan terkait pandemi serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi domestik dan luar negeri, sehingga kondisi ekonomi masih mengalami ketidakpastian yang tinggi.

Bank of Japan mempertahankan target ekonomi Jepang di bawah kendali kurva imbal hasil, di kisaran minus 0.1% untuk suku bunga jangka pendek dan sekitar 0% untuk imbal hasil obligasi tenor 10 tahun.

Disebutkan dalam proyeksi kuartalan yang baru bahwa bank sentral Jepang telah meningkatkan perkiraan pertumbuhan di tahun fiskal mendatang, yang akan mengalami ekspansi sebesar 3.9% dari kenaikan 3.6% yang tercatat pada periode tiga bulan sebelumnya, berdasarkan harapan bahwa paket pengeluaran pemerintah dalam jumlah besar akan mampu mengurangi pukulan yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19.

Selain itu mereka juga meningkatkan penilaiannya terhadap laju belanja modal menjadi “bottoming out”, sekaligus memproyeksikan peningkatan ekspor secara lebih luas yang mendapat dukungan dari laju permintaan luar negeri yang kuat.

Akan tetapi hal tersebut justru menawarkan pandangan konsumsi yang lebih suram, menyusul peringatan bahwa belanja di sektor jasa akan tetap berada di bawah tekanan yang kuat, yang berpotensi menambah dorongan deflasi terhadap ekonomi Jepang.

Banyak analis yang memperkirakan bahwa Bank of Japan akan sedikit menahan amunisi kebijakannya menjelang peninjauan bank terhadap alat kebijakan mereka yang dijadwalkan dilaksanakan pada bulan Maret mendatang, yang bertujuan untuk membuatnya menjadi lebih berkesinambungan saat negara tersebut bersiap untuk berupaya menahan laju pandemi yang berkepanjangan.

Sebuah sumber dalam BoJ mengatakan kepada Reuters bahwa bank sentral Jepang akan membahas cara-cara untuk mengurangi pembelian ETF secara besar-besaran dan akan melonggarkan pengetatan yield curve control, guna menghidupkan kembali pasar yang dinilai telah “mati rasa” akibat intervensi selama bertahun-tahun.

Terkait akan hal ini Shinichiro Kobayashi selaku ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, mengatakan bahwa ada kemungkinan bank sentral akan memperlambat laju pembelian ETF, namun pihak BoJ akan melakukannya dengan cara yang tidak memberikan kesan kepada pasar bahwa mereka tengah memutar balik kebijakan stimulusnya.

Hingga kini banyak analis yang terfokus pada setiap tanggapan dari Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda terhadap laporan media yang mengatakan bahwa bank sentral dapat memperluas kisaran implisit, dimana imbal hasil jangka panjang diizinkan untuk bergerak di kisaran target 0%.(WD)

Related posts