Header Ads

Dollar Menguat Seiring Lonjakan Kasus Virus

Lonjakan kasus virus corona di kawasan Eropa dan AS serta belum adanya kemajuan yang berarti dalam pembicaraan mengenai stimulus fiskal AS, membuat para pelaku pasar bersikap lebih hati-hati sehingga kondisi ini memberikan dukungan bagi mata uang US Dollar, di tengah stabilnya harapan terhadap kesepakatan perdagangan Brexit.

Setelah sempat melemah di sesi perdagangan pekan kemarin, indeks Dollar yang menjadi ukuran nilai greenback terhadap mata uang utama lainnya, mampu menguat di sesi perdagangan waktu Asia pagi tadi, terutama terhadap mata uang yang sensitif terhadap risiko yaitu Aussie dan Euro.

Hingga hari ini AS telah mencatat jumlah kasus Covid-19 tertinggi selama dua hari berturut-turut, demikian pula dengan Perancis dan Spanyol yang mengumumkan keadaan darurat baru serta Italia yang telah mengeluarkan kebijakan untuk menutup restoran dan bar pada pukul 6 sore.

Pada hari Minggu kemarin Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan bahwa dia mengharapkan tanggapan Gedung Putih pada hari Senin mengenai rencana pengeluaran stimulus terbaru, tetapi ada beberapa tanda nyata bahwa kesepakatan yang lama terhenti sebetulnya telah semakin mendekati hasil akhirnya.

Kepala strategi FX di National Australia Bank, Ray Attrill mengatakan bahwa kombinasi dari surutnya harapan untuk kesepakatan fiskal pra-pemilihan serta berita mengenai Covid-19 dan kemungkinan diberlakukannya kembali kebijakan lockdown yang ketat, sudah menjadi faktor utama terjadinya tekanan bagi pasar saham.

Attrill juga mengatakan bahwa penurunan indeks S&P 500 berjangka hingga sebesar setengah persen, telah memberikan efek yang lebih luas terhadap pergerakan pasar mata uang, dimana para pedagang juga tengah dalam suasana yang lebih berhati-hati menjelang pemilihan presiden AS pada 3 November mendatang.

Sementara itu nilai Poundsterling masih stabil seiring harapan terhadap adanya terobosan dalam kesepakatan perdagangan antara Inggris dengan Uni Eropa, setalah pada akhir pekan kemarin perwakilan dari Britain’s Northern Island mengatakan bahwa masih ada peluang yang bagus untuk terciptanya kesepakatan perdagangan.

Pada pekan depan para pelaku pasar akan terfokus pada tiga pertemuan bank sentral utama, yang mana Bank of Canada dan Bank of Japan diperkirakan akan menahan tekanan untuk saat ini, sementara pasar berasumsi Bank Sentral Eropa akan berhati-hati terhadap inflasi dan pertumbuhan, bahkan jika melewatkan pelonggaran lebih lanjut.

Terkait hal tersebut Joe Capurso selaku analis pasar mata uang di Commonwealth Bank of Australia, mengatakan bahwa risiko yang timbul adalah jika Presiden ECB Christine Lagarde memberikan nada dovish selama konferensi pers pasca-pertemuan, yang mana jika Presiden Lagarde menekankan risiko penurunan yang dihadapi ekonomi zona Euro, maka hal ini akan mendukung kenaikan Dollar.

Selain itu analis juga memperkirakan bahwa kemenangan Joe Biden minggu depan, terutama jika Demokrat memenangkan kendali Senat, kemungkinan akan menandai paket stimulus AS yang besar, namun demikian para investor tetap akan berhati-hati.

Di tempat lain, para pemimpin teratas China memetakan arah ekonomi negara untuk tahun 2021-2025 pada pertemuan penting yang dimulai pada hari Senin, dan kemungkinan akan mengadopsi target pertumbuhan yang lebih rendah atau lebih fleksibel.(WD)

Related posts