ECB Diharapkan Memperpanjang Pembelian Obligasi

Meskipun ada kemungkinan ekonomi Eurozone mengalami rebound, namun para ekonom dan investor mengharapkan European Central Bank untuk tetap memperpanjang program pembelian obligasi darurat di pertemuan kebijakan berikutnya.

Sejumlah pihak termasuk HSBC Holdings Plc, UBS Group AG serta ABN Amro Bank NV berharap dewan gubernur bank sentral Eropa untuk tetap memperpanjang pengaturan stimulus mereka saat ini, dan ekonom yang disurvei sebelum pertemuan sebelumnya mengatakan bahwa laju pembelian mungkin akan terjadi dalam skala kuartal berikutnya.

Hal ini timbul setelah para pejabat tinggi menolak gagasan bahwa mereka siap untuk memperlambat laju pembelian obligasi, dan dengan sikap kolega yang lebih hawkish relatif bersikap tidak mengomentari permasalahan ini, sehingga kondisi saat ini diatur untuk kebijakan moneter yang lebih longgar.

Greg Fuzesi selaku ekonom JPMorgan Chase & Co dalam sebuah laporan mengatakan bahwa hal ini memiringkan kemungkinan kelanjutan dari kecepatan pembelian yang lebih cepat secara signifikan di kuartal ketiga, bahkan jika keputusan tersebut mungkin masih ditutup di bulan Juni dan memerlukan sejumlah elemen kompromi.

Dalam hal ini investor telah menangkap perubahan sentimen di pasar, menyusul imbal hasil obligasi Jerman 10-year telah mengalami penurunan hingga 10 basis poin sejak naik ke level tertinggi dalam dua tahun pada pekan lalu, yang menunjukkan prospek perlambatan dalam program ECB.

Pembelian obligasi di masa pandemi mengalami peningkatan di bulan Maret saat obligasi AS rebound telah memicu kenaikan biaya pinjaman global di saat Eurozone berada dalam resesi double-dip, dan saat ini pembelian rata-rata mendekati 20 milliar Euro sepekan dibandingkan dengan nilai pembelian 14 milliar Euro sepekan di awal tahun ini.

Pihak ECB akan mengungkap proyeksi ekonomi baru yang akan mengkonfirmasi prospek yang lebih cerah seiring peningkatan vaksinasi dan sebuah survei menunjukkan optimisme yang tinggi, dengan pihak perusahaan yang meningkatkan output dan tekanan harga yang meningkat.

Namun demikian anggota Dewan Eksekutif ECB Fabio Panetta mengatakan bahwa dirinya tidak melihat adanya pembenaran untuk memperlambat laju pembelian, dengan alasan tidak ada bukti tekanan inflasi yang akan berkelanjutan, serta Presiden ECB Christine Lagarde telah mengatakan pada pekan lalu bahwa masih terlalu dini untuk membahas rencana untuk menghapus program stimulus.

Selain itu Gubernur Prancis Francois Villeroy de Galhau mengatakan gagasan memperlambat pembelian pada kuartal ketiga adalah “murni spekulatif”, namun rekannya dari Jerman Jens Weidmann memilih untuk tidak membahas kebijakan saat ini dalam pidatonya di hari Kamis kemarin, sedangkan Robert Holzmann dari Austria mengatakan bahwa pembelian obligasi akan ditentukan oleh kondisi pasar yang ada.

Imbal hasil di kawasan euro terus naik dari level bulan Maret, dan ECB memperingatkan dalam tinjauan stabilitas keuangan terbarunya bahwa kejutan kenaikan lebih lanjut dalam inflasi AS dapat menyebabkan risiko limpahan yang serius.

Ekonom HSBC Fabio Balboni dalam sebuah catatannya mengatakan bahwa tampaknya terlalu dini untuk mulai mengurangi laju pembelian obligasi, dan pemulihan ekonomi saat ini masih dalam fase awal, laju inflasi di bawah target serta negara-negara Eropa telah meningkatkan perkiraan defisit fiskal mereka baru-baru ini.

Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan adalah likuiditas musim panas yang lebih tipis, dan hal itu mungkin memaksanya untuk memperlambat pembelian sementara namun juga mempersulit komunikasi, sehingga beberapa ekonom menganggap ECB akan memilih penyampaian yang lebih samar.

Sedangkan Katharina Utermoehl dari Allianz mengatakan bahwa komitmen untuk memperlambat pembelian dapat menyebabkan situasi di mana kenaikan imbal hasil obligasi yang tidak terduga memerlukan perubahan kebijakan yang cepat, akan tetapi sebaliknya sikap ambiguitas konstruktif akan membuat ECB akan memfikuskan kembali terhadap fleksibiltas program pandemi.(WD)

Related posts