Header Ads

Ekonomi Jepang Di Ambang Resesi

Pihak berwenang dari pemerintah Jepang diperkirakan akan mengeluarkan penetapan kondisi darurat yang ketiga kalinya untuk kota Tokyo dan tiga prefektur wilayah Barat Jepang, yang kemungkinan akan berlangsung selama sekitar dua minggu, yang menggarisbawahi upaya pemerintah untuk menangani lonjakan jumlah kasus baru Covid-19.

Sejumlah analis mengatakan bahwa keputusan yang diperkirakan paling cepat akan dibuat di hari Jumat besok, yang berpotensi mendorong ekonomi Jepang kembali ke dalam resesi menyusul pihak pengecer yang diminta untuk menutup aktifitasnya selama liburan Golden Week, yang akan dimulai di pekan depan dan akan berlangsung hingga awal bulan Mei mendatang.

Kondisi darurat yang diperbarui juga akan menimbulkan keraguan apakah Tokyo dapat menjadi tuan rumah Olimpiade di bulan Juli mendatang, meskipun Perdana Menteri Yoshihide Suga menjamin bahwa perhelatan tersebut akan berjalan sesuai rencana.

Risiko terjadinya resesi ini menurut Hiroshi Shiraishi sebagai ekonom senior di BNP Paribas Securities yang mengatakan bahwa risiko double-dip jelas mengalami peningkatan seiring dampak pemberlakuan pembatasan aktifitas ekonomi di Tokyo dan Osaka yang akan membawa dampak yang cukup besar.

Menyusul laporan yang mengatakan adanya ribuan kasus baru akibat jenis varian baru dari virus corona yang sangat menular, Perdana Menteri Suga mengatakan bahwa pemerintah akan memutuskan di pekan ini, apakah akan mengumumkan pemberlakuan keadaan darurat untuk sebagian besar wilayah Jepang.

Jika kondisi darurat ini diterapkan di empat wilayah yang mengajukan permintaan penerapan tindakan darurat, yang mencakup hampir seprempat populasi Jepang yang berjumlah 126 juta, maka akan berdampak hingga sekitar 30% dari Produk Domestik Bruto.

Kantor berita Jiji melaporkan bahwa pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan darurat dari 25 April hingga 11 Mei mendatang, sementara media lain telah meningkatkan kemungkinan pembatasan yang lebih kuat dibandingkan yang dikeluarkan untuk terakhir kalinya di bulan Januari, seperti permintaan untuk menutup department store serta pengecer besar lainnya.

Namun demikian Takumi Tsunoda yang menjabat sebagai ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute menilai bahwa waktu penerapan kondisi darurat tidak tepat, karena akan menekan belanja sektor jasa selama musim liburan musim semi, dan Tsunoda juga memangkas perkiraannya untuk produk domestik bruto kuartal kedua menjadi 0.5%, atau hingga setengah dari kecepatan yang diproyeksikan sebelumnya.

Saat ini ekonomi Jepang dinilai telah mampu bangkit dari kemerosotan parah di tahun lalu berkat ekspor yang kuat, namun analis memperkirakan bahwa penyusutan PDB di kuartal pertama diakibatkan oleh terpukulnya konsumsi dari pembatasan darurat kedua yang diluncurkan di bulan Januari sekaligus mengatakan bahwa kontraksi secara berturut-turut di kuartal kedua akan menyebabkan kemungkinan terjadinya resesi.

Sementara itu kondisi dari pembatasan darurat sepertinya tidak akan memicu adanya pelonggaran kebijakan moneter tambahan, yang mana hal tersebut dapat mempengaruhi proyeksi pertumbuhan kuartalan dari Bank of Japan yang akan dirilis di pekan depan.

Terkait akan hal ini kepala ekonom di Totan Research, Izuru Kato menilai bahwa jika mengingat prospek permintaan global yang kuat, maka Bank of Japan kemungkinan tidak akan membuat perubahan besar pada perkiraan pemulihan yang moderat, namun kontraksi pada PDB di kuartal kedua nampaknya tidak bisa dikesampingkan sehingga pihak bank sentral kemungkinan akan mengeluarkan banyak peringatan mengenai risiko yang melingkupi permintaan domestik.

Sejauh ini Jepang terus berupaya menghindari penyebaran pandemi yang terus mengalami lonjakan di banyak negara-negara di barat, yang membuat Jepang terjebak dalam gelombang pandemi keempat yang disebabkan oleh jenis varian baru dari virus corona yang lebih menular, di tengah upaya vaksinasi yang berjalan lamban.(WD)

Related posts