Ekonomi Jepang Mengalami Kontraksi Di Kuartal Kedua

Laporan pertumbuhan ekonomi Jepang menunjukkan bahwa ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut mengalami pukulan akibat kontraksi ekonomi terbesar dalam catatannya di kuartal kedua, seiring pandemi virus corona menghantam konsumsi dan ekspor, sehingga membuat para pejabat pengambil kebijakan berada di bawah tekanan untuk bertindak lebih berani guna mencegah resesi yang lebih dalam.

Sebelumnya aktifitas ekonomi sempat bangkit dari kelesuan setelah kebijakan lockdown dicabut di akhir bulan Mei lalu, sehingga para analis memperkirakan jika terjadi rebound di kuartal ini hanya bersifat moderat seiring kenaikan kasus infeksi yang baru yang menyebabkan laju pengeluaran konsumen tetap ketat.

Dilaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jepang mengalami penyusutan sebesar 27.8% di tingkat tahunan pada periode April-Juni, yang menandai penurunan terbesar sejak data pembanding tersedia sejak tahun 1980 dan sedikit lebih besar dari perkiraan rata-rata dari pelaku pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 27.2%.

Kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami mengatakan bahwa penurunan terbesar dapat terlihat dari penurunan konsumsi dan ekspor dan pihaknya berharap bahwa pertumbuhan akan berubah positif di kuartal Juli-September, namun secara global rebound pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan di semua negara, kecuali di Cina.

Besaran GDP riil Jepang dilaporkan menyusut menjadi 485 triliun Yen, yang merupakan angka terendah sejak periode April-Juni 2011, saat Jepang masih mengalami deflasi dan stagnasi ekonomi selama dua dekade.

Disebutkan bahwa penyebab utama di balik hasil laporan yang suram adalah tingkat konsumsi swasta yang turun hingga menyentuh rekor 8.2% akibat kebijakan lockdown untuk mencegah penyebaran virus yang memaksa para konsumen untuk tetap tinggal di rumah.

Sementara permintaan eksternal. atau ekspor dikurangi impor, telah memangkas besaran GDP hingga 3.0 poin persentase, akibat pengiriman luar negeri yang turun sebesar 18.5% seiring ekspor produk mobil yang mengalami pukulan sangat keras.

Penurunan penjualan kendaraan global telah merugikan pembuat mobil seperti Mazda Motor Corp dan Nissan Motor Co, sebagai pendorong terbesar ekonomi Jepang, serta membawa kerugian bagi para pemasok suku cadang mereka.

Sedangkan belanja modal dilaporkan turun 1.5% di kuartal kedua, yang kurang dari perkiraan rata-rata pasar untuk perkiraan penurunan 4.2%, karena investasi perangkat lunak yang solid sehingga menutupi laju pengekuaran yang lemah di sektor lainnya.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengakui bahwa pembacaan GDP Jepang berada dalam kondisi cukup parah, namun beliau menunjuk sejumlah titik terang seperti kenaikan konsumsi dalam beberapa waktu terakhir ini, dan beliau menyampaikan dalam konferensi pers bahwa pihaknya berharap untuk melakukan yang terbaik guna mendorong ekonomi Jepang, yang kemungkinan mencapai titik terendah pada bulan April dan Mei, dan akan kembali ke jalur pemulihan yang didorong oleh laju permintaan domestik.

Jepang telah mengerahkan stimulus fiskal dan moneter dalam skala besar-besaran untuk meredam pukulan dari pandemi, yang melanda ekonomi mereka yang telah menderita akibat kenaikan pajak penjualan di tahun lalu serta dampak dari perang perdagangan antara AS-Cina.

Saat ini kebangkitan jumlah kasus infeksi yang mengkhawatirkan telah mengaburkan prospek bisnis dan pengeluaran sektor rumah tangga, saat ekonomi telah dibuka kembali setelah pemerintah mencabut langkah-langkah darurat di akhir bulan Mei lalu.(WD)

Related posts