Greenback Berpotensi Mencatat Penurunan Mingguan

Seiring rilisan data unemployment claims mingguan AS yang dirilis dengan hasil buruk sehingga menimbulkan tanda-tanda baru melemahnya pasar tenaga kerja yang merusak ekspektasi investor terhadap kecepatan pemulihan ekonomi dari pandemi, maka hal ini berpotensi membuat Greenback mencatat penurunan mingguan pertamanya dalam tiga pekan terakhir.

Nilai tukar Dollar terpantau tetap melemah di sepanjang sesi perdagangan Asia pagi tadi, bergerak di dekat level terendahnya dalam dua pekan terakhir sejak dirilisnya data klaim pengangguran mingguan AS yang lemah.

Dengan demikian hal ini menambah kekhawatiran yang terjadi baru-baru ini yang menunjukkan reli dari mata uang US Dollar dinilai telah mampu memperkirakan laju rebound yang terlalu cepat bagi ekonomi AS.

Saat ini terdapat perbedaan pandangan diantara para pedagang di tahun ini mengenai bagaimana paket stimulus fiskal yang direncanakan oleh Presiden AS Joe Biden sebesar $ 1.9 triliun dapat membawa pengaruh yang siginifikan terhadap pergerakan indeks Dollar.

Sejumlah kalangan melihatnya sebagai suatu upaya untuk memperkuat mata uang karena seharusnya hal ini akan mempercepat laju pemulihan ekonomi AS secara relatif terhadap negara lainnya.

Sementara yang lainnya menganggap bahwa hal tersebut akan memberi tenaga bagi wacana terjadinya refleksi secara global yang berpotensi mengangkat aset berisiko dengan menimbulkan tekanan bagi Dollar.

Dalam sebuah catatannya seorang ahli strategi di Westpac menilai bahwa ekonomi AS akan mengungguli sebagian besar ekonomi dunia lainnya berkat stimulus fiskal serta penyebaran vaksin yang lebih cepat.

Namun kebijakan fiskal dan moneter reflasioner yang tengah berlangsung akan meninggalkan indeks Dollar di jalur tren penurunan jangka menengah yang berkelanjutan.(WD)

Related posts