Greenback Bertahan Di Kisaran Rendahnya

Pergerakan indeks Dollar masih tetap berada di kisaran rendahnya terhadap mayoritas mata uang lainnya di sesi perdagangan awal pekan ini, seiring beredarnya spekulai bahwa Ketua The Fed Jerome Powell akan mengesampingkan pembicaraan mengenai pengurangan pembelian obligasi pada pertemuan kebijakan di pekan ini.

Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang Euro yang naik hingga mendekati level tertingginya dalam dua bulan terhadap US Dollar, menjelang rilisan data yang akan menunjukkan perbaikan dalam sentimen bisnis di Jerman, yang dinilai mampu meningkatkan harapan terhadap prospek ekonomi yang lebih baik.

Diperkirakan bahwa Powell akan mendapat pertanyaan seputar apakah pasar tenaga kerja yang membaik serta meningkatnya vaksin virus corona, akan memerlukan penarikan pelonggaran moneter, namun sebagian besar analis mengharapkan bahwa Powell akan mengatakan bahwa hal ini masih terlalu dini, yang berpotensi semakin memberi tekanan terhadap yield Treasury AS serta greenback.

Salah seorang analis di Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatannya mengemukan bahwa Dollar kemungkinan masih akan berada di tren penurunannya, sejalan dengan momentum ekonomi dunia, dan pihaknya berharap bahwa pertemuan kebijakan The Fed bukan satu-satunya penggerak Dollar, yang mana ekonomi AS dinilai masih jauh dari ambang batas kemajuan substansial lebih lanjut bagi The Fed untuk mengurangi pembelian asetnya.

Saat ini greenback berada di kisaran 107.88 Yen atau berada dekat kisaran terendahnya sejak 4 Maret, sementara Euro mencatat kenaikan di kisaran $ 1.2105, menyusul dukungan dari data sektor jasa Eropa dan aktifitas manufaktur yang mencatat hasil yang positif, sedangkan terhadap Poundsterling terpantau greenback melemah hingga berada di $ 1.3876 setelah mencatat kenaikan 0.3% di sesi perdagangan sebelumnya.

Pada sesi perdagangan waktu Eropa siang hari nanti, sebuah survei dari lembaga Ifo di Jerman, diperkirakan akan mampu menunjukkan kondisi sektor bisnis yang terus membaik di negara ekonomi terbesar Eropa tersebut, sehingga berpotensi memulihkan sentimen di kawasan Eurozone secara keseluruhan.

Sedangkan pertemuan The Fed yang akan berakhir di hari Rabu waktu AS, diharapkan tidak akan memutuskan adanya perubahan kebijakan besar, namun para investor akan memberikan perhatian khusus terhadap komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell pasca pertemuan tersebut.

Peningkatan vaksinasi virus corona serta prospek ekonomi yang terus membaik, menjadi alasan utama untuk lebih merasa optimis, namun demikian banyak pelaku pasar dan analis yang mengatakan bahwa Powell kemungkinan akan menegaskan komitmennya untuk tetap mempertahankan kebijakan mudah untuk jangka waktu yang lama.

Pihak US Funds terpantau telah menjual Dollar terhadap Yen baru-baru ini di sesi perdagangan waktu Asia, yang menjadi tanda terbaru yang memperlihatkan investor utama yang mengharapkan imbal hasil Treasury AS yang lebih rendah, guna memberikan dorongan bagi penurunan Dollar.

Para spekulan telah meningkatkan taruhan bearish mereka terhadap Dollar, yang tercatat telah naik hingga ke level tertingginya dalam tiga pekan, sementara itu sebuah perhitungan dari Reuters dan sebuah data dari US Commodity Futures Trading Commission menunjukkan penurunan greenback lebih lanjut.

Sedangkan di pasar negara berkembang, para pedagang tengah mengamati pergerakan mata uang Lira Turki, guna melihat apakah akan menguji level terendahnya sepanjang masa, seiring memburuknya hubungan Turki dengan AS serta kekhawatiran terhadap sikap dovish dari gubernur bank sentral Turki.(WD)

Related posts