Greenback Cenderung Defensif Terhadap Mata Uang Pesaingnya

Mata uang US Dollar saat ini berada dalam posisi yang lebih defensif terhadap mata uang yang sensitif terhadap pertumbuhan, seiring data ekonomi dari AS dan Eropa yang optimis, namun demikian masih ada kekhawatiran baru di pasar terkait Covid-19 yang meredam aksi risk appetite yang lebih agresif.

Sentimen pasar memperoleh dorongan tambahan dari berita bahwa vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech bersama dengan raksasa farmasi AS Pfizer, telah menunjukkan potensi yang positif dan telah ditoleransi dengan bagi saat uji coba awal terhadap manusia.

Poundsterling diperdagangkan dengan kecenderungan datar di awal perdagangan hari ini, namun telah mencatat kenaikan sebesar 1.1% di pekan ini, sementara mata uang Aussie mampu menguat hingga 0.7% sejak awal pekan ini, sedangkan mata uang tunggal Euro terpantau mampu mempertahankan kenaikan sebesar 0.35 hingga menjelang akhir pekan ini.

Sebelumnya dilaporkan bahwa aktifitas manufaktur AS rebound lebih dari yang diharapkan pada bulan Juni, dengan indeks aktivitas manufaktur yang dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) mencapai level tertinggi dalam 14 bulan seiring perusahaan dan sektor bisnis kembali melanjutkan aktifitasnya pasca dikuranginya kebijakan lockdown secara bertahap.

Sementara itu hasil survei serupa di Cina, Jerman dan Prancis semuanya menunjuk ke pemulihan dalam aktivitas pabrik, serta ditambah dengan laporan ketenagakerjaan Nasional AS yang dikeluarkan oleh ADP menunjukkan payroll di sektor swasta untuk bulan Juni mengalami peningkatan hingga sebanyak 2,369 juta pekerjaan.

Sedangkan data untuk bulan Mei telah direvisi naik untuk menunjukkan daftar penggajian sektor swasta yang melonjak hingga sebanyak 3,065 juta, dari data sebelumnya yang dilaporkan turun 2.76 juta pekerjaan.

Dengan demikian laporan ketenagakerjaan resmi dari pemerintah yang akan dirilis menjelang libur Independence Day pada Jumat besok, diperkirakan akan menunjukkan peningkatan hingga sebanyak 3 juta pekerjaan di luar sektor pertanian selama bulan Juni lalu.

Selain itu terhadap Yen Jepang, greenback berupaya bangkit setelah mencatat penurunan hingga 0.4% di sesi perdagangan hari sebelumnya, menyusul ketidakmampuan Dollar untuk pulih dari kerugian di sesi perdagangan Asia akibat dari meningkatnya permintaan terhadap safe haven.

Terkait akan hal ini, Tohru Sasaki yang menjabat sebagai kepala riset untuk pasar Jepang di JPMorgan, mengatakan bahwa jika kita melihat lonjakan lebih lanjut dalam kasus wabah virus corona, maka pihaknya berharap bahwa US Dollar dan Yen Jepang akan mampu menguat terhadap mata uang utama lainnya.(WD)

Related posts