Header Ads

Greenback Melemah Terhadap Yuan

Mata uang US Dollar terpantau mengalami kejatuhan terhadap mayoritas mata uang pesaingnya di sesi perdagangan hari ini, akibat reli yang terjadi di aset berisiko seperti ekuitas global serta komoditas yang mengalihkan minat investor dari safe haven Dollar.

Mata uang Yuan Cina mencatat kenaikan hingga ke level tertingginya dalam empat bulan terhadap greenback, sekaligus memperpanjang kenaikan baru-baru ini karena investor telah meningkatkan posisi mereka di pasar saham Cina karena tanda-tanda pertumbuhan pemulihan Cina.

Kekhawatiran yang berkepanjangan tentang penyebaran virus corona dapat membuat sejumlah pasangan mata uang akan bergerak dalam kisaran ketat, namun kerugian yang diderita oleh US Dollar meningkat secara bertahap akibat sentimen pasar yang mendukung pertaruhan berisiko terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Minori Uchida selaku kepala penelitian pasar global di MUFG Bank, mengatakan bahwa meningkatnya saham dan penurunan dalam imbal hasil Treasury sedikit memberikan dampak negatif terhadap Dollar, namun pasar tidak bergerak terlalu jauh karena pasar masih merasa khawatir terhadap penyebaran virus.

Selain itu banyak data ekonomi AS yang dirilis dengan hasil yang positif, sehingga ini akan menjadi faktor yang mempengaruhi perdagangan, seiring para pelaku pasar yang mencari petunjuk lebih lanjut dari pasar saham, imbal hasil obligasi dan biaya lindung nilai.

Sementara itu terhadap mata uang tunggal Euro, pergerakan US Dollar mencatat penurunan 0.3% mencapai level terendahnya dalam satu bulan terhadap Euro, seiring dorongan lebih lanjut yang didapat oleh Euro, menyusul Jerman yang merilis data perdagangannya dengan mencatat surplus yang lebih besar dari perkiraan.

Saat ini para investor tengah menanti data klaim pengangguran mingguan AS, namun nampaknya pergerakan US Dollar masih akan mengalami tekanan hingga memasuki sesi perdagangan waktu AS nanti malam.

Akhir-akhir ini mata uang Yuan Cina telah menjadi primadona di pasar mata uang, menyusul investor yang mengabaikan ketegangan diplomatik antara Washington dan Beijing untuk fokus terhadap petunjuk peningkatan ekonomi Tiongkok serta kemajuan sektor teknologinya yang menarik perhatian pelaku pasar.

Sedangkan beberapa investor enggan untuk mengambil posisi besar sebelum musim liburan musim panas tradisional di tengah ketidakpastian seputar pandemi, seiring para analis yang mengatakan bahwa sentimen pasar lebih memberikan tekanan terhadap pelemahan US Dollar.(WD)

Related posts