Harga Minyak Naik Seiring Ekspektasi Turunnya Pasokan AS

Melemahnya Dollar AS serta ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah di AS sebagai negara konsumen minyak terbesar dunia, menjadi faktor pemicu dukungan bagi kenaikan harga minyak di sesi perdagangan hari ini, meskipun meningkatnya kasus virus corona di Asia membatasi kenaikan harga minyak.

Minyak mentah berjangka jenis Brent Crude untuk pengiriman bulan Juni mencatat kenaikan sekitar 0.8% atau 54 sen, sementara minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman bulan Mei, tercatat menguat 0.8% atau sekitar 53 sen, sedangkan untuk pengiriman bulan Juni mencatat kenaikan di angka yang sama 0.8% atau 50 sen.

Melemahnya nilai tukar US Dollar terhadap mata uang lainnya membuat konsumen yang menggunakan mata uang lain akan membayar lebih sedikit untuk produk komoditi minyak dalam denominasi Dollar.

Dalam sebuah catatannya ING Economics menilai bahwa kelemahan Dollar AS terus menawarkan dukungan bagi sejumlah komoditas, meskipun masih tersisa kekhawatiran terhadap permintaan minyak di wilayah tertentu.

Pada sesi perdagangan awal pekan ini, nilai indeks Dollar terpantau merosot hingga ke level terendahnya dalam enam pekan terhadap mata uang utama lainnya, menyusul penurunan imbal hasil Treasury AS di pekan lalu, dan terpantau tetap mendekati level terendahnya.

Dukungan bagi kenaikan harga minyak juga datang dari hasil jajak pendapat Reuters yang menunjukkan perkiraan penurunan stok minyak mentah AS serta stok persediaan produk distilasi selama pekan lalu, sementara persediaan bensin kemungkinan akan mencatat kenaikan.

Jajak pendapat tersebut dilakukan menjelang laporan dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) pada malam hari nanti, serta menjelang laporan dari Energy Information Administration (EIA) selaku badan statistik dari Departemen Energi AS pada hari Rabu besok.

Selain itu National Oil Corp (NOC) Libya mengumumkan kondisi darurat terhadap laju ekspor dari pelabuhan Hariga dan sekaligus mengatakan bahwa pihaknya dapat memperluas langkah tersebut ke fasilitas pengiriman lainnya karena perselisihan anggaran yang terjadi dengan pihak bank sentral negara tersebut.

Terjadinya gangguan tersebut juga berpotensi memangkas tingkat produksi minyak Libya hingga sebesar 280 ribu barel per hari, sekaligus menjatuhkan produksi minyak mereka di bawah 1 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak bulan Oktober lalu.

Selain itu lembaga Joint Organisations Data Initiative (JODI) pada hari Senin kemarin mengatakan bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi mencatat penurunan hingga ke level terendahnya dalam delapan bulan di bulan Februari lalu, yang mana hal ini menggambarkan komitmen dari negara eksportir minyak terbesar dunia di batas produksi sukarela untuk mendukung harga minyak global.

Akan tetapi laporan yang menyebutkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di India, selaku negara importir dan konsumen minyak terbesar ketiga dunia, telah mengurangi optimisme untuk berlanjutnya laju pemulihan dalam permintaan bahan bakar global.(WD)

Related posts