Harga Tingkat Grosir Jepang Mencatat Kenaikan

Tanda-tanda adanya kenaikan biaya energi dan komoditas yang menimbulkan tekanan terhadap margin perusahaan terjadi akibat dari kenaikan harga grosir Jepang di bulan April, yang mencatat kenaikan tingkat tahunan yang tercepat dalam enam setengah tahun terakhir.

Seiring pandemi Covid-19 yang membebani konsumsi domestik, para analis menilai terjadi ketidakpastian mengenai apakah perusahaan akan memberikan beban biaya yang lebih tinggi terhadap sektor rumah tangga serta membantu bank sentral untuk mencapai target inflasi 2% yang sulit dipahami.

Kepala divisi Bank of Japan yang bertanggung jawab terhadap statistik harga, Shigeru Shimizu mengatakan bahwa sebagian besar kenaikan ini didorong oleh laju permintaan global yang kuat sehingga mendorong harga komoditas, namun harga barang yang sensitif terhadap permintaan domestik hanya mencatat sedikit kenaikan sejauh ini.

Sebuah data yang dirilis oleh Bank of Japan menunjukkan bahwa Corporate Goods Price Index (CGPI), yang mengukur harga barang dan jasa yang dibebankan oleh perusahaan satu sama lain, mencatat kenaikan 3.6% di bulan April dari periode yang sama di tahun sebelumnya, sehingga menunjukkan laju yang lebih cepat dari perkiraan kenaikan 3.1% oleh para analis.

Kenaikan ini mencatat kenaikan tercepatnya sejak September 2014 silam, menyusul kenaikan 1.2% di bulan Maret, yang mana sebagian peningkatan ini disebabkan oleh efek dasar penurunan terkait pandemi di tahun lalu.

Laju kenaikan yang dialami selama bulan April lalu, sebagian besar mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas, menyusul harga produk minyak yang naik 39.3% dari tahun sebelumnya serta harga logam non ferrous yang mencatat kenaikan hingga 35.2% di periode yang sama.

Harga kayu dan barang-barang dari kayu mencatat kenaikan 4.75, efek dari permintaan perumahan AS yang meningkat, yang mana dari 744 item dalam indeks, sebanyak 399 item mengalami kenaikan harga, sementara 289 item lainnya mengalami penurunan harga dari periode yang sama di tahun lalu.

Perusahaan Jepang lambat dalam memberikan biaya yang lebih tinggi kepada para konsumen, yang sensitif terhadap kenaikan harga akibat laju pertumbuhan upah yang lemah, sehingga hal tersebut telah menghambat upaya Bank of Japan untuk menaikkan inflasi konsumen ke target 2%.

Pihak bank sentral mendapat tantangan yang semakin berat di tengah kondisi Jepang yang masih mengalami pandemi, sehingga negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut akan tumbuh jauh lebih lambat dari yang diharapkan di kuartal ini, menyusul kondisi darurat yang diperpanjang untuk mengatasi kebangkitan infeksi virus yang masih terjadi.(WD)

Related posts