Inflasi Inggris Naik Lebih Dari Dua Kali Lipat

Laju inflasi harga konsumen di Inggris di bulan April lalu dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipatnya, sehingga menjadi sebuah awal dari harapan Bank of England terkait lonjakan sementara dari pemulihan ekonomi yang diakibatkan oleh kontraksi yang ditimbulkan dari pandemi virus corona di tahun lalu.

Office for National Statistics merilis indeks harga konsumen Inggris yang naik 1.5% di bulan April, menyusul kenaikan 0.7% yang tercatat di bulan Maret sebelumnya, sementara para ekonom memperkirakan kenaikan 1.4% dalam jajak pendapat dari Reuters.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan tagihan listrik dan gas serta dukungan dari kenaikan harga pakaian dan alas kaki, ditambah dengan biaya bahan bakar bensin yang mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak global yang kesemuanya mampu memberikan dorongan bagi inflasi.

Dalam beberapa bulan kedepan laju inflasi di Inggris diperkirakan akan tetap mengalami peningkatan, yang mencerminkan pergerakan yang tengah berlangsung di AS saat ekonomi global mengalami kenaikan pasca tekanan yang datang dari pandemi Covid-19.

Howard Archer selaku ekonom dan analis di EY Item Club, mengatakan bahwa seiring inflasi yang mengalami peningkatan lebih lanjut selama beberapa bulan mendatang serta ekonomi yang terlihat bersiap untuk laju pemulihan yang lebih layak di kuartal kedua, maka perhatian pasar akan lebih terfokus pada kapan waktunya Bank of England dapat mulai memberlakukan pengetatan kebijakan moneternya dibandingkan pertanyaan mengenai apakah bank sentral akan memberikan stimulus lebih lanjut.

Namun demikian Archer beranggapan bahwa pihak Bank of England sepertinya tidak akan melangkah secara terburu-buru untuk mulai membicarakan sekaligus memikirkan apakah akan segera memperketat kebijakan moneternya dalam risalah rapat kebijakan Monetary Policy Committee di bulan Mei ini.

Dilaporkan pula untuk laju inflasi inti, yang tidak memasukkan harga energi dan item volatile lainnya, mencatat kenaikan 1.3% dalam periode 12 bulan hingga April lalu.

Saat ini Bank of England mengatakan bahwa inflasi di Inggris tengah menuju di atas target 2% pada akhir 2021, seiring kenaikan harga minyak global serta berakhirnya pemangkasan darurat untuk pajak pertambahan nilai di sektor perhotelan pada bulan September mendatang, yang dikomparasi dengan penurunan kasus Covid-19 di tahun 2020 lalu.

Akan tetapi pihak Bank of England juga memperkirakan bahwa laju inflasi akan kembali mengalami penurunan ke kisaran 2% pada rentang waktu 2022 dan 2023 mendatang.

Sebuah data terpisah yang dirilis pada hari ini juga menunjukkan bahwa harga yang dikenakan oleh pihak produsen, mencatat kenaikan 3.9% dalam periode 12 bulan hingga April lalu, yang mana ini merupakan kenaikan terbesar dalam dua setengah tahun terakhir, serta harga yang dibayarkan produsen untuk input juga dilaporkan naik 9.9%, yang merupakan angka kenaikan terbesarnya sejak Februari 2017 lalu.

Pada hari Selasa kemarin Gubernur Bank of England, Andrew Bailey mengatakan bahwa sejauh ini hanya ada sedikit petunjuk mengenai tekanan biaya produsen yang telah memberikan pengaruh terhadap harga konsumen di Inggris.(WD)

Related posts