Header Ads

Inflasi Konsumen Inggris Naik Di Bulan Maret

Laju inflasi dari sisi konsumen di Inggris untuk bulan Maret mencatat kenaikan menjadi 0.7% dari 0.4% di bulan Februari, namun demikian masih tetap di bawah ekspektasi rata-rata 0.8% dalam jajak pendapat Reuters terhadap ekonom, seiring harga bahan bakar dan pakaian yang mencatat kenaikan.

Office for National Statistics mencatat bahwa disko yang biasanya terjadi di bulan Februari telah berkurang saat memasuki bulan Maret lalu, namun dinilai masih cukup tinggi di luar musim, yang mana secara tidak terduga laju inflasi sempat mereda di Februari, yang sebagian besar diakibatkan oleh penurunan tahunan terbesar sejak 2009 silam dalam harga pakaian dan alas kaki.

Akan tetapi diperkirakan bahwa laju inflasi di tingkat tahunan akan kembali meningkat di tahun ini, seiring pihak pemerintah Inggris yang terus melakukan upaya-upaya untuk mengakhiri pandemi yang saat ini masih melanda, demikian pula dengan negara-negara ekonomi utama dunia lainnya.

Sebelumnya pihak Bank of England telah merilis hasil perkiraan mereka terkait inflasi di Inggris, yang dinilai akan mencapai 2% di akhir tahun 2021 ini, sementara dalam jangka menengah BoE melihat adanya tekanan inflasi yang lebih rendah karena pelemahan pasar kerja yang diperkirakan akan bertahan, bahkan setelah ekonomi mampu kembali ke level pra-pandemi yang diperkirakan akan terjadi di awal tahun depan.

Laju inflasi Inggris diperkirakan akan meningkat secara tajam dalam beberapa bulan kedepan, dikarenakan tagihan energi rumah tangga yang mencatat kenaikan di bulan April ini, harga minyak global yang lebih tinggi serta perbandingan dengan harga di tahun lalu saat terjadinya kebijakan lockdown Covid-19 yang menyebabkan merosotnya permintaan.

Pada bulan Februari lalu Kepala ekonomi dari Bank of England Andy Haldane menilai bahwa inflasi ibarat harimau yang dapat dibangkitkan dengan mudah, yang artinya bahwa laju inflasi yang lebih cepat dapat terjadi dengan “mudah”, akan tetapi pandangan ini tidak diterima secara luas oleh sejumlah anggota Komite Kebijakan Moneter lainnya.

Selain itu Office for National Statistics juga melaporkan inflasi produsen yang naik 1.9% di periode tiga bulan hingga Maret, yang mencatat harga tertingginya dalam hampir dua tahun, serta harga yang dibayarkan untuk input yang dilaporkan melonjak hampir 5.9% yang merupakan lonjakan terbesarnya sejak September 2018 lalu.(WD)

Related posts