Inflasi Korea Selatan Naik Di Laju Tercepat

Sebuah data dari kantor statistik menunjukkan bahwa inflasi Korea Selatan meningkat di bulan April dalam laju tercepatnya sejak tahun 2017 lalu, di tengah pemulihan ekonomi yang semakin meluas, namun demikian kenaikan tersebut sepertinya tidak memicu kekhawatiran terkait tekanan harga yang berlebihan menyusul “calendar effects” yang mendukung kenaikan.

Laju inflasi dilaporkan naik menjadi 2.3% di bulan April lalu, yang mencatat peningkatan pesat dari 1.5% di bulan Maret lalu, sementara ekonom memperkirakan harga konsumen naik 2.1% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dalam skala tahunan laju inflasi naik ke level tertingginya sejak Agustus 2017 menyusul kenaikan ekspor di bulan lalu dalam laju tercepat dalam satu dekade terakhir, sehingga mendorong Produk Domestik Bruto Korea Selatan di kuartal pertama mencapai puncak sebelum dilanda pandemi, yang menjadi pencapaian yang belum pernah terjadi di sebagian besar wilayah negara tersebut.

Meskipun ada tanda-tanda peningkatan permintaan domestik yang mendukung inflasi, yang mana dorongan tersebut sebagian besar ditimbulkan oleh harga komoditas dan energi yang lebih tinggi, yang sebelumnya mengalami penurunan setahun sebelumnya karena pandemi menyebar ke seluruh dunia.

Park Chong-hoon selaku ekonom di Standard Chartered Bank di Seoul, mengatakan bahwa yang terpenting saat ini adalah bagaimana laju inflasi yang didukung oleh pendapatan, namun seiring belum pulihnya pasar tenaga kerja secara sepenuhnya, dan sulit untuk mengatakan seberapa banyak dukungan yang datang dari sisi permintaan, sehingga masih terlalu dini untuk melihat kenaikan inflasi ini sebagai faktor struktural.

Laporan yang dirilis pada hari ini menunjukkan inflasi yang melampaui target 2% dari Bank of Korea untuk pertama kalinya sejak 2018, namun bank sentral nampaknya tidak mungkin melihat ini sebagai tanda meningkatnya tekanan harga, menyusul pernyataan Gubernur Lee Ju-yeol yang mengatakan bahwa inflasi akan mengalami perlambatan setelah berfluktuasi sekitar 2% di kuartal ini.

Wakil Menteri Keuangan Lee Eog-won menyetujui bahwa peluang inflasi 2% yang mengakar sepertinya terbatas, sementara itu beliau juga berjanji bahwa pemerintah akan mencoba menstabilkan harga sehingga kenaikan harga di kuartal kedua tidak akan menimbulkan ekspektasi inflasi yang berlebihan.

Sementara konsumen Korea Selatan tetap merasa optimis selama dua bulan berturut-turut dan negara itu melihat serangkaian peningkatan prospek para analis, seiring pihak Goldman Sachs dan JPMorgan yang mengalami pertumbuhan ekonomi lebih dari 4% di tahun 2021.

Secara detail harga makanan dan minuman non-alkohol mengalami kenaikan terbesarnya di tingkat tahunan, sebesar 8.1% di bulan April dari bulan sebelumnya yang mengalami penurunan tipis 0.2%.

Sedangkan biaya transportasi naik 6.4% di tingkat tahunan sebagai tanda kenaikan harga energi dan untuk sektor hiburan dan rekreasi mengalami kenaikan harga 1.2% dari tahun sebelumnya serta biaya restoran dan hotel mencapai kenaikan 1.8%.(WD)

Related posts