Inflasi Produsen Cina Mengalami Lonjakan

National Bureau of Statistics (NBS) Cina merilis data harga produsen yang mengalami lonjakan di bulan April lalu, namun hal ini tidak dibarengi oleh inflasi konsumen yang hanya menunjukkan sedikit kenaikannya, seiring melonjaknya harga komoditas yang meningkatkan kekhawatiran terkait laju inflasi.

Dalam data yang dirilis hari ini, disebutkan bahwa indeks harga produsen (PPI) Cina tumbuh hingga 6.8% di tingkat tahunan pada April lalu dari 4.4% di bulan Maret, yang merupakan pertumbuhan tertingginya sejak Oktober 2017, dan melebihi perkiraan pertumbuhan 6.5% dlam survei oleh Investing.com.

Sementara itu indeks harga konsumen (CPI) justru mencatat penurunan 0.3% di tingkat bulanan pada April lalu, yang lebih rendah dari perkiraan penurunan 0.2% dalam jajak pendapat Investing.com, namun masih mencatat penurunan yang lebih lamabt dari kontraksi 0.5% di bulan Maret.

Sedangkan di tingkat tahunan dilaporkan laju indeks harga konsumen tumbuh 0.9%, sedikit dibawah perkiraan pertumbuhan 1.0% dalam jajak pendapat Investing.com, dan masih mencatat pertumbuhan yang lebih cepat dari sebesar 0.4% di bulan Maret sebelumnya.

Kepala ekonom Cina di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Raymond Yeung mengatakan bahwa kesenjangan yang semakin lebar antara CPI dan PPI, semakin menunjukkan bahwa laju pemulihan ekonomi berjalan tidak merata, yang mana meskipun terjadi booming komoditas, namun sektor jasa tidak mampu mengikuti, selain itu pertumbuhan upah mengalami ketertinggalan dan People’s Bank of China (PBOC) kemungkinan besar akan tetap mempertahankan sikap kebijakannya di “largely neutral”.

Para investor juga merasa khawatir bahwa booming yang terjadi terhadap komoditas di negara eksportir terbesar dunia tersebut, yang diakibatkan oleh meningkatnya permintaan global serta kurangnya pasokan, berpotensi menyebabkan inflasi secara global seiring pihak produsen yang mulai memberikan harga yang lebih tinggi ke pihak pengecer.

Diketahui bahwa sejumlah bank sentral di dunia, termasuk Federal Reserve AS telah mempertahankan pandangan mereka bahwa lonjakan inflasi hanya bersifat sementara, namun para pembuat kebijakan Cina bersikeras bahwa hal ini dapat membatasi dampak harga komoditas terhadap ekonomi domestik serta mampu mengendalikan harga.

Selain itu pemerintah juga berjanji akan membatasi biaya bagi perusahaan dengan mengambil langkah lebih lanjut untuk mengendalikan pasar bahan baku dan PBOC juga ingin memperlambat langkah-langkah stimulus yang diluncurkan ketika COVID-19 menyebar pada tahun 2020, karena kekhawatiran atas penumpukan hutang.

Salah seorang pejaba NBS mengatakan bahwa saat ini pemerintah Cina telah menargetkan untuk menjaga inflasi konsumen di sekitar 3% tahun ini, indeks diperkirakan akan “lebih rendah secara signifikan” dari tujuan resmi pada tahun 2021.(WD)

Related posts