Kebijakan Tapering Semakin Menekan Logam Mulia

Pada dinihari tadi Federal Reserve memberikan isyarat bahwa kebijakan pengurangan aset dapat dimulai di tahun ini dan juga kenaikan suku bunga berpotensi terjadi lebih cepat dibanding yang diharapkan sebelumnya, sehingga kesemua ini menimbulkan tekanan bagi pergerakan harga Emas berjangka.

Selain merilis keputusan kebijakan terbarunya, The Fed juga menyampaikan bahwa pengurangan pembelian aset dapat segera dimulai setelah bulan November mendatang, sekaligus mengatakan bahwa kenaikan suku bunga bisa terjadi di tahun 2022 guna mengatasi kenaikan inflasi.

Sementara itu Bank of England dan Bank Sentral Norwegian dijadwalkan akan memberikan keputusan kebijakannya masing-masing di pekan ini, sedangkan Bank of Japan telah mempertahankan suku bunganya tidak berubah di minus 0.10% saat merilis kebijakan moneternya di hari Rabu kemarin.

Pada saat yang sama perusahaan pengembang properti, China Evergrande Group mampu meredakan kekhawatiran untuk sementara waktu, terkait potensi guncangan pasar yang diakibatkan oleh krisis hutang mereka, dimana mereka mampu mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan pembayaran bunga obligasi domestik, menyusul langkah People’s Bank of China yang menyuntikkan dana tunai ke dalam sistem perbankan.

Sebelumnya para investor menantikan dengan cemas apakah perusahaan tersebut mampu memperoleh dana untuk membayar bunga obligasi luar negeri sebesar $ 83.5 juta dari kewajiban hutang sebesar $ 300 milliar, yang akan jatuh tempo pada hari ini.

Tekanan yang datang terhadap pergerakan harga Emas berjangka dari sentimen pasar ini, sedikit mengesampingkan laporan dari Kementerian Keuangan yang menunjukkan bahwa Rusia memproduksi sekitar 173.99 ton Emas antara Januari hingga Juli, lebih sedikit dari produksi sebanyak 176.30 ton pada periode yang sama di tahun sebelumnya.(WD)

Related posts