Penjualan Ritel Inggris Mengalami Kejatuhan

Masih ditutupnya toko-toko non-esensial selama masa pandemi ini, menjadi penyebab jatuhnya penjualan ritel di Inggris selama bulan Januari, namun demikian pinjaman publik yang lebih rendah dari perkiraan telah menawarkan bantuan bagi Menteri Keuangan Rishi Sunak di tengah persiapan rencana anggaran.

Office for National Statistics melaporkan volume penjualan ritel turun 8.2% dibandingkan dengan Desember, yang mencatat penurunan yang jauh lebih besar dari perkiraan penurunan 2.5% dalam jajak pendapat ekonom Reuters dan sekaligus mencetak rekor terbesar kedua setelah penurunan pada April 2020 disaat awal terjadinya pandemi.

Salah seorang ekonom di Capital Economics, Paul Dales mengatakn bahwa satu-satunya hal baik terkait kebijakan lockdown saat ini adalah bahwa hal ini tidak seburuk dengan apa yang lockdown pertama akibatkan terhadap perekonomian.

Pihak ONS mengatakan bahwa laju penurunan dalam penjualan ritel di bulan lalu masih lebih kecil dibandingkan penurunan 18% di bulan April tahun lalu, seiring terhambatnya penurunan berkat kinerja dalam layanan online.

Selain itu mereka juga menyampaikan bahwa pinjaman sektor publik telah mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir di bulan Januari lalu sebesar 8.8 milliar Poundsterling ($ 12.3 milliar), namun defisiti ini masih lebih kecil dibandingkan perkiraan defisit sebesar 24.5 milliar Poundsterling dalam jajak pendapat Reuters sebelumnya.

Hal ini menyebabkan laju pinjaman sejak awal tahun fiskal di bulan April lalu menjadi 270.6 milliar Poundsterling, yang mencerminkan lonjakan pengeluaran dan pemangkasan pajak yang diperintahkan oleh Sunak sejak dimulainya pandemi.

Dalam pernyataan anggarannya pada 3 Maret mendatang, diperkirakan bahwa Sunak akan memperpanjang kebijakan subsidi gaji pemerintah, setidaknya untuk sektor ekonomi yang mengalami pukulan. Selaku pejabat berwenang di sektor keuanga,

Sunak menyampaikan bahwa dirinya dapat meningkatan pengeluaran karena sektor keuangan publik berada dalam kondisi yang baik sebelum terjadinya krisis, oleh karena itu ekonomi akan mengalami pemulihan dan pihaknya harus mengembalikan keungan publik kepada pijakan yang lebih berkelanjutan dan dirinya akan menyampaikan mengenai bagaimana pemerintah Inggris menjalankan langkah pemulihannya.

Bank of England menilai bahwa ekonomi Inggris yang telah mengalami kemerosotan di tahun lalu hingga minus 10%, diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 4% dalam tiga bulan pertama tahun 2021 sebelum mengalami pemulihan di akhir tahun.

Untuk tingkat tahunan laju penjualan ritel di bulan Januari turun 5.9% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah department store dan toko pakaian mengalami penurunan paling tajam di bulan lalu, sementara itu belanja online mencatat kenaikan ke pangsa pasar tertingginya yang pernah dari total pengeluaran sebesar 35.2%.

Sedangkan untuk keuangan publik jika dibandingkan dengan pencapaian di bulan Januari tahun lalu, pihak ONS mengatakan bahwa penerimaan pajak pemerintah pusat mengalami penurunan kurang dari 1 milliar Poundsterling, serta disebutkan ada peningkatan pendapatan hingga 300 juta Poundsterling dari pihak bea cukai, yang hingga bulan lalu masih ke Uni Eropa dan untuk pertama kalinya Inggris tidak membayar kontribusi untuk anggaran Uni Eropa yang biasanya mencapai rata-rata 1 milliar Poundsterling setiap bulannya.(WD)

Related posts