Penjualan Ritel Inggris Turun Secara Tidak Terduga

Meskipun banyak konsumen yang berduyun-duyun mengisi bahan bakar kendaraan mereka, di tengah melonjaknya harga minyak mentah dunia, namun laju penjualan ritel Inggris secara tidak terduga justru mengalami penurunan dalam bulan kelima secara berturut-turut, sehingga mengindikasikan hilangnya momentum pemulihan ekonomi Inggris.

Data resmi yang dirilis pada hari ini menunjukkan volume penjualan ritel turun 0.2% di bulan September, akibat permasalahan rantai pasokan yang menyebabkan kesenjangan di gerai-gerai penjualan ritel, yang mana angka ini menandai penurunan bulanan terpanjang secara beruntun sejak dimulainya pencatatan di tahun 1996, sekaligus meleset jauh dari ekspektasi kenaikan 0.5% dari para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Pelemahan ini semakin memperumit para anggota dewan kebijakan Bank of England mengenai apakah akan melawan kenaikan inflasi yang melaju cepat dengan cara menaikkan suku bunga acuannya di bulan depan, atau sebagai gantinya hanya menunggu hingga ekonomi mampu pulih secara lebih luas dari banyaknya momentum yang hilang akibat pandemi.

Terkait rilisan data ini, Bethany Beckett selaku ekonom Inggris di Capital Economics mengatakan bahwa secara keseluruhan rilisan data ini mendukung pandangan mereka bahwa laju pemulihan ekonomi terhenti di bulan September.

Selama periode paruh pertama tahun ini laju penjualan ritel Inggris mengalami rebound yang kuat seiring dilonggarkan pembatasan aktifitas bagi toko-toko, namun sejak mencapai puncaknya di bulan April lalu saat sebagian warga menghabiskan lebih banyak waktunya untuk liburan dan makan di luar pasca dilonggarkannya pembatasan social distancing secara umum, laju penjualan terpantau justru mengalami penurunan.

Office for National Statistics juga melaporkan bahwa dalam tiga bulan hingga September lalu, dilaporkan penjualan mengalami penurunan sebesar 3.9%, yang dinilai akan mengurangi pertumbuhan ekonomi secara lebih luas pada kuartal ketiga hingga sebesar 0.2 poin persentase, yang mana jika dibandingkan sebelum pandemi maka volume penjualan tercatat sebesar 4.2% lebih tinggi, namun masih sekitar 1.3% di bawah pencapaian tahun lalu.

Kemacetan rantai pasokan menyebabkan kesenjangan di beberapa rak supermarket, dan banyak pompa bensin kehabisan bahan bakar pada akhir September dan awal Oktober akibat dari kurangnya pengemudi tanker sehingga menyebabkan antrian mobil yang mencoba untuk mengisi bahan bakar.

Kepala Eksekutif dari British Retail Consortium Helen Dickinson memperingatkan bahwa kekurangan tenaga kerja di seluruh sektor yang berhubungan dengan rantai pasokan, pertanian, pabrik, gudang serta angkutan telah menimbulkan potensi ancaman bagi gagalnya pemulihan ekonomi saat ini.

Penjualan bensin di bulan September melebihi tingkat sebelum terjadinya pandemi untuk pertama kalinya, namun demikian masih ada penurunan tajam terhadap penjualan barang-barang rumah tangga seperti furnitur dan penerangan.

Inflasi harga konsumen juga meningkat tajam, sebagian besar karena harga energi yang lebih tinggi, dan BoE memperkirakan akan melebihi 4% sekitar akhir tahun ini, dua kali lipat dari tingkat targetnya, dimana ukuran inflasi yang lebih sempit digunakan dalam data penjualan ritel, mencatat kenaikan menjadi 3.7% di bulan September, yang merupakan angka tertingginya sejak Desember 2011 silam.

Prospek harga yang lebih tinggi serta peningkatan dalam kasus Covid-19 baru-baru ini, telah meredam sentimen konsumen yang mana laporan dari Gfk menunjukkan bahwa survei terhadap sentimen jangka panjang menunjukkan moral konsumen yang berada di kisaran terendahnya sejak Februari, saat Inggris masih berada dalam kondisi lockdown.

Pihak pengecer juga tengah menghadapi dilema mengenai seberapa banyak mereka harus meneruskan kenaikan biaya kepada para konsumen, seperti yang dialami oleh perusahaan rantai discount Poundland dan pengecer mode online Boohoo telah memperingatkan margin keuntungan yang lebih rendah dalam beberapa pekan terakhir.

British Retail Consortium mengatakan bahwa tiga dari lima pengecer memperkirakan harga akan naik sebelum Natal, seperti yang dialami oleh pengecer mode lainnya ASOS berada di tengah kekhawatiran bahwa tekanan rantai pasokan dan konsumen yang kembali ke prilaku pra-pandemi yang akan mengurangi keuntungan hingga sebesar 40% di tahun depan.

Selain itu sebuah data yang dirili oleh ONS menunjukkan bahwa belanja online masih tetap kuat secara keseluruhan di angka 28% dari total penjualan ritel pada bulan September, mencatat kenaikan 20% dari sebelum terjadinya pandemi, namun angka tersebut masih jauh di bawah level puncaknya saat mencapai kenaikan 37% di bulan Januari saat toko-toko mengalami penutupan selama lockdown.(WD)

Related posts