Header Ads

Pertumbuhan Ekonomi Cina Sedikit Melambat

Seiring beban dari biaya bahan baku yang lebih tinggi serta wabah Covid-19 varian baru, sehingga laju pertumbuhan ekonomi Cina sedikit lebih lambat dari yang diharapkan, yang mana hal ini meningkatkan ekspektasi bahwa para pembuat kebijakan kemungkinan harus berbuat lebih banyak guna mendukung laju pemulihan ekonomi.

Selama kuartal kedua di periode April-Juni, sebuah data resmi dari NBS menunjukkan bahwa produk domestik bruto tumbuh 7.9%, yang meleset dari ekspektasi kenaikan 8.1% dalam jajak pendapar Reuters terhadap ekonom, dimana rata-rata pertumbuhan kuartal kedua di tahun 2020 dan 2021 berada di angka 5.5%, dari rata-rata 5% di kuartal pertama.

Menanggapi data ini ekonom UOB Singapura, Woei Chen Ho mengatakan bahwa angka ini sedikit dibawah ekspektasi ekonim dan ekspektasi pasar, namun momentumnya dinilai cukup kuat, akan tetapi kekhawatiran yang lebih besar adalah laju pemulihan yang tidak merata telah terlihat sejauh ini, dan pemulihan konsumsi domestik sangat penting artinya bagi Cina, seiring penjualan ritel di bulan ini cukup kuat sehingga kemungkinan menghapus sejumlah kekhawatiran.

Meskipun negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut telah mampu pulih dari krisis Covid-19 dengan kuat, yang didukung oleh permintaan ekspor yang solid serta dukungan kebijakan pemerintah, akan tetapi rilisan sejumlah data dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan hilangnya sejumlah momentum.

Adapun faktor yang menjadi beban diantaranya adalah biaya bahan baku yang lebih tinggi, kurangnya pasokan serta pengendalian polusi yang menghambat aktifitas sektor industri, serta wabah Covid-19 yang menimbulkan hambatan bagi laju pengeluaran konsumen.

Saat ini para investor tengah mengamati untuk melihat apakah pihak bank sentral akan beralih ke sikap kebijakan yang lebih mudah setelah People’s Bank of China pada pekan lalu mengumumkan akan memangkas jumlah uang tunai yang harus dipegang bank sebagai cadangan, seperti yang telah dimulai atau mulai dipikirkan oleh beberapa bank sentral lainnya untuk keluar dari kebijakan stimulus di era pandemi.

National Bureau of Statistics juga melaporkan pertumbuhan PDB di basis triwulan yang meningkat 1.3% di periode April-Juni, yang mengalahkan ekspektasi kenaikan 1.2% dalam jajak pendapat Reuters, serta merevisi turun pertumbuhan pada kuartal pertama menjadi 0.4%, dari kuartal keempat tahun lalu.

Langkah PBOC, yang merilis sekitar 1 triliun yuan ($ 154.64 miliar) dalam likuiditas jangka panjang untuk mendukung pemulihan, bahkan tetap dirilis ketika pembuat kebijakan telah berusaha untuk menormalkan kebijakan setelah pemulihan ekonomi yang kuat dari krisis virus corona untuk menahan risiko keuangan.

Dalam kesempatan briefing di pagi hari tadi, Liu Aihua selaku pejabat di NBS mengatakan bahwa pemulihan ekonomi domestik tidak merata, namun pihaknya harus melihat bahwa epidemi global terus berkembang, dan ada banyak ketidakstabilan eksternal dan faktor-faktor yang tidak pasti.

Sementara itu ahli strategi senior China di ANZ di Shanghai, Xing Zhaopeng mengatakan bahwa jika pembuat kebijakan tidak bertindak berdasarkan situasi ini, maka angka PDB di kuartal terakhir tahun ini bisa turun dari kisaran yang wajar karena data di kuartal keempat lalu yang cukup solid, sehingga beliau berharap pemerintah akan meluncurkan langkah-langkah pelonggaran yang ditargetkan.

Ekspor China yang kuat telah menjadi dukungan utama bagi pemulihan negara itu pasca-COVID, tetapi seorang pejabat bea cukai mengatakan di pekan ini bahwa pertumbuhan perdagangan secara keseluruhan mungkin melambat pada paruh kedua tahun 2021, sebagian mencerminkan ketidakpastian pandemi COVID-19.(WD)

Related posts